Artikel

Perlindungan Publik dan Penanggulangan Bencana di Indonesia

Risikobencana.co, Jakarta, 24/4/2018. Asia Pasific ICT Alliance Award (APICTA) 2017 Nominee dan Presiden Mahasiswa BEM KEMA Telkom University 2015.

"Kemudian daripada itu untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia ...”

Kalimat di atas merupakan cuplikan dari pembukaan UUD Negara Republik Indonesia tahun 1945 yang termaktub pada alinea ke empat.

 

Sejatinya pemberian perlindungan kepada rakyat Indonesia merupakan amanat dan cita-cita dari para founding fathers Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Negara yang diamanatkan untuk memegang kendali pemerintahan harus dapat membentuk suatu sistem perlindungan publik yang dapat memberikan kenyamanan dan keamanan kepada seluruh rakyat Indonesia.

Bencana alam pada dasarnya merupakan hal yang bersifat alamiah yang tak mungkin dibendung kehadirannya.

Namun seiring berjalannya waktu, manusia mulai mengenal teknologi sehingga dapat dipergunakan untuk memprediksi datangnya bencana alam dan meminimalisir kerugian yang disebabkan.

 

Sistem teknologi telekomunikasi terhadap bencana alam ini dapat digunakan sebelum terjadinya bencana (pre-disaster), saat terjadinya bencana (disaster-event), dan setelah terjadinya bencana (post-disaster).

Penulis: Aidil Afdan Pananrang, Editor: Jumadi Mappanganro

Sumber: http://makassar.tribunnews.com/2018/04/17/opini-perlindungan-publik-dan-penanggulangan-bencana-di-indonesia.


Lebih Dari 3 Juta Warga Mengungsi dan Menderita Akibat Bencana dan Perubahan Iklim selama 2017

Risikobencana.co. Jakarta, 10/1/2017 - Hampir semua wilayah di Indonesia, Sepanjang 2017 diguncang berbagai bencana alam, seperti bencana banjir, longsor hingga puting beliung, yang digolongkan sebagai bencana hidrometereologi, gempa bumi dan juga erupsi gunung api, yang dikategorika sebagai bencana geologi.

Menurut data badan PBB yang focus terhadap kebencanaan, UNISDR, diketahui bahwa lebih dari 80% peristiwa bencana terjadi akibat dari perubahan iklim global. Karenanya kontribusi perubahan iklim terhadap banyak peristiwa bencana merupakan hal yang sangat menyita perhatian.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), menyebutkan bahwa selama tahun 2017, terdapat 1.911 kejadian bencana di Indonesia.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, telah terjadi peningkatan kejadian bencana dari tahun ke tahun. Masih menurutnya terdapat 95 persen kejadian bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi. Bencana jenis ini dikenal sangat erat kaitannya dengan pengaruh cuaca dan iklim.

Masih menurut data BNBP terdapat jumlah korban meninggal dan hilang mencapai 174 orang, korban luka-luka 877 orang, sedangkan korban mengungsi dan menderita berjumlah lebih dari 3 juta orang.

Akibat berbagai bencana juga terhitung lebih dari 24 ribu rumah mengalami kerusakan, serta 1.500 keruskan fasilitas umum berupa kesehatan, peribadatan, dan Pendidikan. Hal ini semua mengancam nasib kelayakan hidup banyak warga yang terdampak bencana di bergai daerah di Indonesia.

Sedangkan jika melihat tren jumlah kejadian bencana, wilayah Jawa, khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah , dan Jawa Timur merupakan 3 Provinsi yang mengalami kejadian bencana tertinggi di Indonesia. Hal tersebut belum lagi diperparah dengan dua siklon yang mengancam wilayah Jawa akhir-akhir ini seperti Siklon Dahlia dan Cempaka. Sebagai dampaknya siklon Tropis Cempaka terhitung sudah ada 41 orang meninggal dan hilang.

Sementara itu diketahui bahwa ada jutaan masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana. menurut data international, dari UNICEF melalui Indonesia Climate Change Report menyebutkan bahwa Indonesia berada pada ranking pertama dari 76 negara didunia untuk risiko Tsunami, ketiga  dari 153 untuk risiko gempa bumi, pertama untuk longsor dan ke enam untuk banjir dari 162 negara di dunia. Ini menandakan bahwa ada banyak ancaman yang akan mengakibatkan Indonesia dengan rawan risiko bencana terbesar didunia serta potensi untuk migrasi masyarakat juga begitu besar akibat rusaknya lahan dan tempat tinggal mereka.

Menurut Prof. Dr. Sudibyakto, M.S, Ketua Prodi Magister Manajemen Bencana UGM beberapa waktu lalu pernah mengatakan bahwa, “beberapa sektor sensitiv seperti dalam bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, pertanian, kesehatan, infrastuktur, energi, dan pariwisata, serta sosial humaniora merupakan sektor yang akan terimbas serius apabila terjadi bencana”. Paparnya.

Sudibyakto juga menyampaikan bahwa Indonesia masih lemah dalam perumusan kebijakan iklim internasional. Pasalnya, hingga saat ini belum banyak dilakukan penelitian terkait dampak perubahan iklim di Indonesia.

Disisi lain konferensi United Nation Framework on Climate Change (UNFCC) atau COP23 di Bonn, Jerman yang telah usai sejak 17 November 2017 lalu. Dikatakan “Pada konferensi tersebut poin penting bagi Indonesia adalah untuk menimba pengalaman-pengalaman negara-negara lain yang sudah meimplemetasikan konsep penurunan emisi karbon”. Menurut Satya Widya Yudha, Wakil Ketua Komisi VII DPR yang ikut menjadi pembicara di Paviliun Indonesia pada COP23 yang dituan rumahkan oleh Fiji. Masih menurutnya, bahwa dalam rangka mencapai target emisi Indonesia harus bersinergi secara komrehensif dan melibatkan seluruh daerah secara nyata.

Oleh karenanya dengan potensi dampak yang diakibatkan dari hubungan perubahan iklim dan bencana di Indonesia begitu besar. Hal itu juga jelas akan berdampak pada nasib jutaan masyarakat yang berpotensi untuk mengungsi dan bahkan bermigrasi akibat hasil terbruk dari bencana. Pemerintah dan segenap masyarakat selalu diharapkan untuk bisa saling bersinergi untuk mengurangsi ririko yang ada. (Muahamad Marwan)

Cara Melindungi Data pribadi dan perusahaan Saat Terjadi Bencana Alam

Risikobencana.co. Jakarta, 27/11/2017. Indonesia adalah negara yang rawan bencana alam. Menurut statistik terbaru dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), di tahun 2016 terdapat sekitar 1.985 bencana alam yang disebabkan oleh banjir, air pasang, gempa bumi, gunung meletus, abrasi, angin topan, kebakaran hutan, dan tsunami.

Ini adalah rekor jumlah bencana alam tertinggi yang pernah terjadi sejak tahun 2006. Kerugian finansial yang disebabkan oleh bencana alam di Indonesia menurut BNPB diperkirakan mencapai IDR 30 triliun atau sekitar USD 2,2 miliar per tahun.

Dari sisi perusahaan, bencana alam juga memengaruhi bisnis terutama infrastruktur teknologi informasi (TI) mereka. Menurut Disaster Recovery Preparedness Council, sebuah organisasi penelitian independen, hampir 20 persen perusahaan yang mengikuti survei mereka pada tahun 2014 mengungkapkan bahwa mereka mengalami kerugian lebih dari USD 50.000 karena bencana alam, sementara yang lainnya mengalami kerugian hingga lebih dari USD 1 juta.

Sayangnya, 60 persen dari perusahaan yang mengikuti survei tidak memiliki rencana pemulihan bencana yang komprehensif agar bisa secara tepat menanggulangi bencana yang mungkin terjadi.

Untuk mempersiapkan perencanaan pemulihan bencana untuk sistem TI, terdapat beberapa aspek infrastruktur TI yang penting untuk diperhatikan. Berikut adalah praktek terbaik yang bisa dilakukan bisnis untuk mengembangkan perencanaan pemulihan bencana alam.

1. Mengatasi downtime sistem di tengah bencana alam

Terlepas dari perkembangan terkini dalam ketahanan infrastruktur, perusahaan TI harus bisa menghadapi ancaman downtime atau tidak bisa diaksesnya layanan sistem dalam jangka waktu tertentu akibat bencana alam.

Hal ini sangat mungkin menyebabkan kerugian ekonomi yang besar untuk bisnis, seperti yang ditunjukkan dalam laporan terbaru oleh IDC dan AppsDynamics yang menemukan bahwa untuk perusahaan-perusahaan Fortune 1000, rata-rata total biaya tak terduga yang harus dikeluarkan akibat downtime aplikasi mencapai US$ 1,25 miliar hingga US$ 2,5 miliar.

Salah satu solusi mitigasi untuk mengatasi downtime adalah menyiapkan ketersediaan software pemulihan bencana yang berkelanjutan melalui pengelompokan berbasis array dan sinkronisasi mirroring. Hal ini memungkinkan duplikasi semua data yang dianggap penting untuk operasi bisnis dari transaksi ke transaksi.

Alternatif lainnya adalah dengan menyediakan teknologi perlindungan double parity atau pengecekan data ganda atas kerusakan tempat penyimpanan berupa hard disk (disk-failure). Hal ini dilakukan untuk mencegah kehilangan data, terutama ketika segala upaya pemulihan terhadap bencana gagal dilakukan.

Perusahaan juga dapat menggunakan perangkat lunak (software) yang dapat replikasi data dan menetapkan recovery point objective (RPO) atau prediksi dan pengaturan mengenai lama periode data yang mungkin hilang sejak terakhir melakukan duplikasi. Misalnya dalam hitungan menit hingga jam untuk menghindari kerusakan data hasil mirroring akibat kegagalan pada waktu tertentu pada data salinan pemulihan bencana.

2. Menggunakan infrastruktur hemat biaya untuk menekan biaya ekonomis dari bencana

Banyak perusahaan yang merasa bahwa perencanaan pemulihan bencana membutuhkan infrastruktur canggih sehingga membutuhkan biaya mahal. Padahal, infrastruktur berbasis cloud bisa menjadi opsi yang lebih hemat biaya dan lebih realistis dibandingkan dengan membangun pusat data sendiri.

Karena tentunya perusahaan bisa dengan mudah menyewa infrastruktur virtual di cloud. Bahkan, penerapan perencanaan pemulihan bencana berbasis cloud akan menghemat pengeluaran perusahaan sebanyak US$ 150.000 selama tiga tahun berkat cost avoidance atau upaya menghindari pengeluaran.

Dengan solusi pemulihan bencana berbasis cloud, sumber biaya utama yang harus diperhatikan adalah bandwidth jaringan dan konsumsi penyimpanan. Biaya ini dapat dikurangi dengan memanfaatkan kompresi data yang dapat menekan ukuran data hingga 70 persen atau lebih sehingga data dan sistem aplikasi bisa masuk ke dalam ruang penyimpanan yang lebih kecil.

Pengelolaan biaya juga dapat dilakukan dengan melakukan teknik deduplikasi dan data transfer yang memungkinkan sistem untuk mencari data yang diduplikasi kemudian menghapusnya untuk menghemat ruang penyimpanan dan hanya memindahkan file, aplikasi, dan sistem yang terbaru.

Dengan menggunakan infrastruktur cloud, total cost of ownership atau total biaya kepemilikan akan jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan biaya pembangunan atau penggunaan fasilitas penyimpanan data on-premise atau di dalam gedung kantor.

3. Menjaga tata kelola yang baik bersama dengan pemerintah untuk memastikan kerja sama yang baik selama terjadi bencana

Ketika terjadi bencana alam, banyak pemangku kepentingan yang akan terkena dampaknya, termasuk perusahaan dan institusi maupun badan pemerintah. Oleh karena itu, diperlukan kerja sama antara pemangku kepentingan untuk memastikan pengembangan perencanaan pemulihan bencana alam yang terintegrasi dengan baik dan menyeluruh.

Komitmen perusahaan atas good governance atau tata kelola yang baik merupakan praktek terbaik dalam memastikan kerjasama yang baik antar pemangku kepentingan yang terlibat dalam upaya pemulihan bencana alam.

Dalam hal kesiapan menghadapi bencana alam, perusahaan di Indonesia harus mematuhi peraturan tentang kesiapan pemulihan bencana bagi penyelenggara sistem elektronik dibawah Peraturan Pemerintah nomor 82 tahun 2012.

4. Secara efektif melakukan peningkatan (scale-up) atas solusi pemulihan bencana alam Anda

Kemampuan untuk melakukan scale-up atau peningkatan ruang penyimpanan data merupakan elemen penting dari perencanaan pemulihan bencana alam yang kuat. Ini berarti solusi yang dimiliki bisa disesuaikan untuk memenuhi pertumbuhan kebutuhan TI.

Infrastruktur berbasis cloud memberikan peluang bagi perusahaan untuk memiliki akses terhadap data secara lebih fleksibel dan hemat biaya.

Kesimpulannya, perencanaan pemulihan bencana alam harus dilihat sebagai kebutuhan dalam perencanaan kelangsungan bisnis, terutama di Indonesia, dimana perekonomian dan jumlah perusahaan lokal berkembang pesat.

Meskipun langkah-langkah diatas hanya menyediakan satu segi dari keseluruhan rencana pemulihan, akan tetapi langkah-langkah tersebut membahas pentingnya perencanaan infrastruktur TI dan perlindungan data yang inovatif dan efektif untuk meminimalisasi kerugian dan mencegah terhentinya seluruh operasi ketika bencana alam terjadi.

(Isk)

Sumber : tekno.liputan6.com

Ekspedisi Palu-Koro dan 295 Sesar Aktif di Indonesia

Risikobencana.co. Jakarta, 2/11/2017. Ketua Umum Ikatan Ahli Geologi Indonesia (Ketum IAGI) Sukmandaru Prihatmoko mengungkapkan adanya tiga wilayah di Indonesia yang memiliki sesar (patahan) aktif yang perlu di waspadai. Tiga wilayah sesar aktif tersebut adalah Sumatera, Sorong dan Sulawesi Tengah.

Indonesia berada di jalur gempa, karena ada di pertemuan beberapa lempeng tektonik. Selama ini yang terkenal adalah sesar Sumatera, padahal yang dua lainnya yaitu sesar Sorong dan sesar Palu-Koro juga perlu diperhatikan. Demikia jelas Sukmandaru di kantor IAGI saat konferensi pers up date gempa dan sesar aktif di Sulawesi Tengah, tengah tahun lalu 2017.

Sukmandaru lebih lanjut menjelaskan, lempeng tektonik bumi sebenarnya terus bergerak dan akan terlihat setiap tahunnya bergeser minimal sekitar beberapa cm. Ketika lempeng bergerak akan menghasilkan tiga kemungkinan yakni: 1. “tabrakan” antar lempeng, 2. kedua lempeng yang saling menjauh dan mengakibatkan magma dari perut bumi naik ke kerak bumi, dan 3. lempeng yang saling bergesekan.

Semua peristiwa itu akan menghasilkan gempa bumi. Tambah Sukmandaru lagi.

IAGI sudah membuat rencana yang disusun bersama 25 peneliti, yang terdiri dari geolog, antropolog, sejarahwan, sosiolog untuk melakukan ekspedisi di sesar aktif yang selama ini kurang disorot media, yaitu di Sulawesi Tengah (sesar Palu-Koro) pada awal 2018 mendatang.

Ekspedisi akan melakukan pemetaan sesar, memprediksi aktivitas sesar dan sosialisasi pada masyarakat sekitar dan juga terutama pemerintah setempat, sebagai upaya mitigasi atau pengurangan risiko bencana, saat nanti terjadi gempa besar di wilayah itu. (Jojo)

Sumber: DisasterChannel.co dan EkspedisiPaluKoro.co

Mengenalkan Budaya Sadar Bencana di Cianjur

Risikobencana.co, Cianjur, 24/4/2018 - Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan daerah dengan potensi bencana alam tinggi khususnya untuk bencana tanah longsor, gempabumi, letusan gunung berapi, dan puting beliung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur mencatat dalam kurun waktu Januari hingga Maret 2018 terjadi sedikitnya 25 kejadian bencana alam di Cianjur. Kepala BPBD Cianjur, Doddy Permadi mengatakan sepanjang Januari terdapat 10 kejadian bencana, Februari lima kejadian, dan Maret 10 kejadian bencana alam yang tersebar di seluruh wilayah Cianjur di tahun 2018. “Bencana didominasi oleh pergerakan tanah dengan delapan kejadian, gempabumi sebanyak enam kejadian dan banjir lima kejadian serta longsor enam kejadian,” katanya. Hal ini disampaikan saat sosialisasikan mitigasi bencana dan penanggulangannya yang berlangsung di SDN Jambudipa 1, Cianjur, Jawa Barat pada Sabtu lalu (21/04). Kegiatan ini diselenggarakan oleh BNPB dan BPBD Cianjur guna mengurangi dampak bencana dengan dihadiri sebanyak 220 pelajar dari empat sekolah yaitu SDN Jambudipa 1, SDN Jambudipa 3, SDN Warungkondang, dan SDN Giriwinaya.

Kejadian bencana adalah kejadian khusus karena itu tidak bisa diduga kapan akan terjadi. Hal yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan reaksi siswa serta memperbaiki sikap dan meningkatkan kemampuan siswa menghadapi bencana. Bermanfaat memberikan pengalaman kepada siswa bagaimana sebaiknya bertindak saat terjadinya bencana gempabumi. Siswa diberikan pemahaman dan pengalaman tentang perilaku bencana, jalur evakuasi, pola pikir dan tindakan yang perlu atau tidak perlu dilakukan saat terjadi bencana, mengetahui tempat evakuasi darurat dan yang paling penting adalah memutuskan tindakan yang harus diambil dalam waktu yang singkat itu dengan mental yang baik.

Kepala Bidang Humas BNPB, Rita Rosita Simatupang mengatakan, sosialisasi ini dilakukan untuk mengedukasi siswa agar siap saat dan bila terjadi bencana. “Kita lakukan edukasi mulai dari permainan dan lagu tentang penyelamatan diri dari bencana, memperkenalkan peralatan BPBD, penampilan dongeng dengan kandungan pesan sadar bencana, pemutaran film untuk mengetahui apa saja yang harus dilakukan atau dipersiapkan dan kemana mereka sebaiknya menyelamatkan diri saat terjadi bencana, serta simulasi bencana” jelasnya. “Kita lakukan edukasi ini kepada para pelajar sedini mungkin karena usia muda seperti mereka mudah menyerap hal baru. Diharapkan mereka juga dapat menjadi penerus informasi bagi keluarganya terhadap apa yang mereka dapatkan dari sosialisasi ini,” tambahnya.

Mengingat sekolah adalah pusat pembelajaran dan tempat belajar yang terbaik bagi siswa dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana maka sosialisasi dan latihan simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana ini perlu memperoleh dukungan dari pemerintah daerah, semua yang bekerja dan berada di lingkungan sekolah, dan partisipasi aktif siswa. Ada beberapa tindakan yang dilakukan dalam kesempatan latihan simulasi ini. Evakuasi atau keluar bangunan sekolah dan berkumpul di tempat aman. Merunduk, melindungi kepala dan berlindung di bawah meja/benda yang kokoh dan kuat. Terakhir simulasi memadamkan api dengan air dan alat pemadam api portable yang diberikan oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Cianjur.

Latihan simulasi berguna untuk menguji tingkat kesiapsiagaan dan membiasakan diri para guru, siswa dan lainnya dalam menghadapi bencana. Pada acara ini, guru dan siswa belajar dan melakukan secara bersama-sama latihan simulasi yang difokuskan pada gempabumi, kebakaran, serta pengenalan penggunaan peralatan darurat.

Dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana siswa perlu meningkatkan pengetahuan tentang cara-cara penyelamatan ketika terjadi bencana, bersedia dan mampu melakukannya. Ini dapat diperoleh dengan cepat melalui latihan simulasi. Latihan simulasi sangat baik bagi siswa untuk membentuk sikap disiplin, serta membangun kebersamaan, kekompakan dan saling tolong menolong. Latihan simulasi dengan dibimbing oleh guru-guru dan didukung sekolah dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan siswa dalam melakukan penyelamatan bila terjadi bencana. Hal yang perlu diingat adalah agar latihan simulasi dapat berhasil dengan baik maka latihan ini harus direncanakan, disiapkan dan dilaksanakan secara rutin, terus menerus dan berulang-ulang. Diharapkan selanjutnya sekolah dan siswa dapat mengembangkan dan melakukan latihan simulasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 

Para murid siswa-siswi yang hadir umumnya masih awam dengan mitigasi bencana maupun penanganan bencana. Dengan kunjungan ini para murid dapat mengenal dan menambah pengetahuannya di bidang bencana. Mempelajari ancaman bahaya juga sangat penting meningkatkan budaya sadar bencana. Siswa secara tidak langsung dapat mengetahui apakah sekolah aman dari ancaman bahaya bencana, sesuai keadaan dan lokasi masing-masing, maka siswa harus belajar, memperhatikan keadaan dan lokasi, serta bertanya kepada guru, teman sekolah dan masyarakat sekitarnya mengenai hal ini. 

Pemberdayaan anak usia sejak dini untuk memahami mitigasi bencana merupakan langkah awal membangun masyarakat sadar bencana. Ketika terjadi bencana siswa, guru dan masyarakat tidak lagi kebingungan dan panik karena telah memahami bagaimana cara mengurangi risiko bencana. Dengan harapan pengetahuan yang didapat ditularkan pada lingkungan sekitar dalam rangka mengurangi risiko bencana.

Selanjutnya BNPB dan BPBD Cianjur pada malam harinya, berlokasi di depan sekolah, tepatnya di Lapangan Jagakarsa, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Cianjur kembali melakukan sosialisasi budaya sadar bencana  melalui pentas budaya wayang golek. Penampilan wayang yang berjudul "Babad Alas Amer" dengan Dalang Opick Sunandar Sunarya dari Wayang Golek Mekar Arum 2, Giriharja merupakan sebuah kesenian tradisional rakyat setempat yang dikemas untuk memperkenalkan strategi budaya masyarakat yang sadar bencana.

Acara seperti ini menjadi terobosan menarik, yakni upaya pemerintah mendekatkan diri dengan masyarakat melalui metode ‘pertunra’ alias pertunjukan rakyat, yang tentunya disesuaikan dengan kultur dan kebutuhan warga lokal. Kegiatan sosialisasi yang dikemas dalam pertunjukan rakyat ini selain untuk menyampaikan pesan kebencanaan juga untuk sarana memberikan hiburan kepada masyarakat.

Acara hiburan rakyat yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB ini berlangsung cukup meriah walaupun diiringi hujan. Dihadiri oleh Sekda Kabupaten Cianjur, Kapolsek Cianjur, Danramil Warungkondang, Kalak BPBD Kabupaten Cianjur, dan beberapa Kepala SKPD di Kabupaten Cianjur.

Menurut Eri, salah satu pedagang yg berjualan di lokasi acara antusias warga yang hadir dikarenakan sudah lamanya diselenggarakan acara wayang golek di tempat ini. "Biasanya tempat ini hanya melakukan hiburan biasa (dangdut). Wayang golek diselenggarakan di daerah selatan, daerah pantai. Sudah belasan tahun saya tidak melihat wayang golek di sini."

Dalam sambutannya Rita Rosita mengingatkan mengenai Longsor Cianjur pada Oktober tahun lalu yang menyisakan kesedihan, sekitar 300 unit rumah rusak dan 3.984 jiwa mengungsi. Masyarakat akan lupa dengan bencana apabila kejadian tersebut terjadi lima atau sepuluh tahun lalu. Kemudian masyarakat tidak waspada terhadap berbagai ancaman atau potensi bahaya di sekitar kita. "Kami sangat mengharapkan masyarakat yang hadir di sini tidak hanya mengikuti kisah yang disampaikan oleh dalang, tetapi juga menerima pesan-pesan yang disampaikan terkait bencana," kata Rita.

Perubahan paradigma dari tanggap darurat bencana, bahwa bencana tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Tetapi, juga bisa diantisipasi kejadian bencana, korban dan diminimalisir dampaknya.

Sosialisasi ini penting bagi warga Cianjur yang tinggal di kawasan zona merah yang artinya masih sangat berpotensi terulangnya dan terjadinya bencana. Dody menjelaskan ada sepuluh potensi bencana di Cianjur. Banjir, banjir bandang, tanah longsor, gunungapi, kebakaran hutan dan lahan, tsunami, kekeringan, cuaca ekstrim, angin puting beliung, dan gempabumi. “Selain itu dengan pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat memberikan informasi atau melaporkan bila ada tanda-tanda terjadinya bencana. Contohnya bila melihat keretakan tanah mereka tidak perlu ragu untuk melapor,” tuturnya.

Penyampaian pesan sadar bencana melalui pendekatan kebudayaan menjadi salah satu metode yang dapat lebih dikembangkan. Di sini, masyarakat menikmati kebutuhan mereka (kesenian tradisional yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi) sembari mendapatkan informasi yang positif. Tanpa merasa digurui dan dijejali informasi yang dipaksakan. Selain itu pementasan pertunjukan rakyat juga dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada para seniman untuk menampilkan kebolehannya dalam olah seni dan "nguri-uri" (ikut melestarikan) budaya.

Sumber: https://bit.ly/2K9boWs

Pelajar di Sukabumi Rutinkan Latihan Simulasi Bencana

Risikobencana.co. Sukabumi, 26/2/2018 - Sebanyak 70 pelajar di Sekolah Menengah Atas Pesantren Unggulan Albayan Putri mengikuti simulasi penanggulangan bencana gempa bumi yang diselenggarakan bekerjasama dengan PMI Kabupaten Sukabumi dan BPBD yang bertempat di komplek yayasan Bina Ummat Sejahtera Jln. salabintana Desa Karawang sukabumi jawa barat pada Sabtu (17/2).

Pembantu Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMA Pesantren Unggul Al Bayan Putri, Khusnul Khotimah,mengatakan, pihaknya sengaja mengadakan kegiatan simulasi ini seiring intensitas bencana gempa yang sering terjadi di sukabumi sekarang ini.

“harapanya dengan diberikan pendidikan tentang kesiapsiagaan bencana sejak dini, diharapkan pelajar tidak panik saat terjadi bencana, bisa membuat jalur evakuasi di sekolah, serta menyelamatkan diri dan juga mampu meminimalisir dampak dari bencana tersebut,” Ungkapnya.

Salahsatu siswi kls X MIPA 6, Siti Aulia Arinindita (Arin) mengungkapkan kesenangannya bisa belajar tentang simulasi bencana gempa di sekolahnya, karna menurutnya, terkadang kalo ada gempa suka panik dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya, melalui simulasi bencana gempa ini jadi tahu langkah langkah yang harus dilakukan.

“Misalnya, Kalo terjadi gempa di kelas kita jangan panik,tenang,lindungi kepala,berlindung di bawah meja belajar dan mengikuti arahan guru lari ke tempat terbuka,” ungkap siswi asal bandung ini.

Ditempat yang sama, Fasilitator PMI Kabupaten Sukabumi, Aris Munandar menuturkan, pendidikan kebencanaan berbasis di sekolah melalui kegiatan Simulasi ini sangat penting dilakukan di setiap sekolah khususnya semua warga belajar, terlebih kita akan menjelang Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) tahun 2018 yang akan digelar pada tanggal 26 April mendatang.

Lebih dari itu,Kabupaten Sukabumi merupakan daerah rawan bencana alam terutama dengan banyaknya rentetan Gempa bumi akhir ini, maka sangatlah penting kegiatan ini terlebih dalam menjelang Hari Kesiapsiagaan Bencana tahun 2018 yang akan digelar pada tanggal 26 April mendatang.

sehingga anak diharapkan bisa mengetahui kesiapsiagaan bencana di sekolah dan bisa melakukan evakuasi mandiri jika terjadi bencana,

Selama ini anak yang berada di sekolah kerap menjadi korban atau belum bisa menyelamatkan diri sendiri jika terjadi bencana.seperti kejadian di kecamatan Kabandungan saat terjadi gempa lebak bulan kemarin.

“Maka dari itu, simulasi dinilai merupakan salah satu cara yang tepat untuk memberikan pendidikan tentang kesiapsiagaan bencana di sekolah,” pungkas Aris.

 

Kontributor: Atep Maulana

Banjir di Kalimantan Tengah, RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya latih Tim Medis Bencana

Risikobencana.co. Palangka Raya. 7/8/2018 - RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya latih Tim Medis Bencana dengan skenario bencana banjir di Kecamatan Sebangau, Kota Palangka Raya, dalam Geladi Lapang Penanganan Banjir.

Tim Medis Bencana selain memberikan bantuan medis pada warga terdampak banjir, juga berlatih koordinasi dengan para pihak penanggulangan bencana di Kota Palangka Raya, seperti BPBD, SAR, dan Dinas Kesehatan.

Geladi lapang ini merupakan rangkaian pelatihan dalam program kesiapsiagaan rumah sakit dan kesiapan masyarakat untuk kedaruratan dan bencana. Sebelumnya, RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya telah melaksanakan serangkaian geladi, yaitu geladi ruang (TTX), geladi keterampilan (drill skill), dan geladi posko (CPX) yang dimulai sejak Oktober 2017.

Geladi lapang ini juga menguji kapasitas tim medis bencana RSI PKU Muhammadiyah Palangka Raya yang nantinya akan menjadi garda depan dalam penyelamatan bencana di Provinsi Kalimantan Tengah.

Mengurangi Sampah Plastik Dengan Ecobrick

Risikobencana.co. Jakarta, 28/11-2017. Sampah menjadi masalah yang cukup pelik sampai hari ini, mulai dari pengumpulan, tempat pembuangan sementara sampai pada tahapan pembuangan akhir. Di Jakarta saja, tiap hari mencapai 6.000 ton sampah yang harus dibuang ke tempat pembuangan akhir. Sampai di pembuangan akhir Bantar Gebang sampah-sampah dari DKI tersebut di tumpuk di lahan seluas 110,8 hektare.

Padahal bisa saja sampah-sampah tersebut dikurangi dan dikelola dengan cermat atau dimanfaatkan kembali. Ecobrick, adalah sebuah gerakan pemanfaatan kembali sampah-sampah untuk berbagai kepetingan, salah satunya sebagai bahan dasar pembuatan rumah. Apa itu Ecobrick ?

Ecobrick adalah metode untuk meminimalisir sampah dengan media botol plastik yang diisi penuh dengan sampah anorganik hingga benar-benar keras dan padat. Tujuan dari ecobrick sendiri adalah untuk mengurangi sampah plastik, serta mendaur ulangnya dengan media botol plastik untuk dijadikan sesuatu yang berguna. Contoh pemanfaatannya adalah untuk pembuatan meja, kursi, tembok, maupun barang kesenian lainnya yang bahkan memiliki nilai jual. Metode ini terbukti mengurangi jumlah sampah plastik di Kanada, negara tempat bernaung pencipta Ecobrik ini, yaitu Russell Maier. (RN)

Cara Yang Dilakukan Dalam Evakuasi Korban Dalam Medan Ketinggian

Risikobencana.co. Citatah, 10/1/2017 - Buat anda yang mempunyai hobby berkegiatan ektrim di medan tebing curam pasti sudah tidak aneh lagi dengan istilah nama lokasi tebing 125 Citatah.

Dilokasi ini anda akan disuguhkan sebuah tempat yang bisa memacu adrenalin dan sekaligus medan kawahcandra dimukanya para pemanjat panjat tebing dan dijadikan media pembelajaran untuk para atlit berlatih, selain itu juga lokasi ini juga medan pendidikannya para Rescuer dan relawan untuk belajar dan melakukan simulasi medan dalam operasi penyelamatan korban dalam kondisi vertikal di medan terjal dan sulit.

“Kemampuan memanjat tebing tidak hanya untuk berolahraga melainkan tekniknya juga berguna untuk berbagai operasi kemanusiaan seperti evakuasi korban di medan gunung, gedung bertingkat hingga sumur ,Ungkap Kepala Sekolah Vertical Rescue Indonedia, Tedi Ixdiana.

Ditemui saat mendampingi simulasi pelatihan dasar vertical rescue relawan PMI di tebing citatah, Tedi menjelaskan, Seiring kerapnya peristiwa kasus-kasus musibah kecelakaan transportasi pesawat jatuh, bencana alam, hingga kecelakaan kerja dari ketinggian, antisipasi penyelamatan korban medan vertikal kian diperlukan terlebih dalam peningkatan kapasitas para relawan PMI dalam mendukung menjalankan tugas operasi kemanusiaan di daerah masing masing.

Tedi Ixdiana mengatakan, penyelamatan korban tidak hanya berlaku di urusan tebing atau gunung, juga meluas ke masalah seperti korban yang tercebur sumur.

Kasus lain baru-baru ini, tim lokal yang merupakan alumni sekolah vertical rescue bekerjasama dengan basarnas dan potensi SAR lainnya membantu penyelamatan pekerja yang terjebak di dalam cerobong Pembangkit Listrik Tenaga Uap di ketinggian 210 meter di daerah Sukabumi gara-gara alat pengangkutnya rusak. Menurutnya, dengan banyak bermunculan relawan dan potensi para alumni VRI dibeberapa daerah akan mempercepat proses evakuasi, tidak harus menunggu regu penolong dari markas Vertical rescue indonesia dari bandung.

Dalam prosesnya setiap peserta wajib mempunyai kualifikasi dasar dasar materi diantaranya Rock Climbing Introduction (pengenalan panjat tebing), Belay System (teknik pengamanan pemanjat), Free Climbing (memanjat bebas), Top Rope Climbing (pemanjatan tali terpasang), Leading Climbing (pemanjatan perintisan), Ascending (memanjat menggunakan alat mekanik), Descending (turun menggunakan tali), Knot and Hitch (teknik simpul dan jerat), Anchoring (pemasangan pengaman), Topping Aut at The Anchor (lepas libat), Belay Escape (lepas beban), Hauling and Lowering (menaikan dan menurunkan beban), Aid Climbing (pemanjatan dengan bantuan).

Sementara itu, kepala Pusdiklat PMI Pusat, Dwi Hariyadi yang turut menyaksikan praktek simulasi peserta PMI di citatah mengatakan, pelatihan ini pertama kali yang digelar oleh PMI Pusat, dengan menggandeng Vertical Rescue Indonesia (VRI) sebagai mitra organisasi yang dinilai mempunyai kompetensi dan kualifikasi dalam evakuasi korban di area bersiko tinggi.

Kontributor: Atep Maulana

Bencana Alam akibat Hidrometorologi Ancaman Nyata

Risikobencana.co. Jakarta, 6/12/2017 - Setiap pagi,  rasanya belum sreg kalau belum melihat  ramalan cuaca,  hal ini memang menjadi kebiasaan baru, ketika cuaca seringkali tidak bersahabat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selalu menyebarkan informasi dengan berbagai model. Karena nyatanya informasi tersebut cukup aplikatif, mudah digunakan  juga mudah dipehami oleh pembacanya.

Menurut DR. Widada Sulistya DEA, Sekretaris Utama BMKG, dalam diskusi Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) - yang berlangsung 5 Desember 2017, di Hotel Sentral, Jakarta - memang  tugas kami adalah memberikan informasi tentang iklim, tetapi hanya sampai disitu, tugas selanjutnya yang menyebutkan bahwa hal ini memiliki potensi bencana,  adalah BNPB.

Sementara  Menurut  Tri Handoko Seto, pakar meteorology tropis BPPT mencatat bahwa,kondisi tidak terlalu basah, polutan tidak terlalu berpengaruh terhadap kelebatan hujan. Tetapi ketika basah, polutan bisa menjadi pemicu hujan yag lebat dan siklon, di Cina contohnya, polutan menjadi penyebab siklon di sekitar negeri tirai bambu tersebut.

Apa yang sudah dilakukan oleh BMKG dengan mengirimkan informasi ke berbagai pihak sudah sangat baik, informasi yang diberikan juga sangat akurat, tetapi budaya untuk membaca kemudian bergerak untuk menghindari  belum tumbuh di masyarakat. Sehingga menurut saya memanfaatkan media mainstream menjadi sangat penting untuk sosialisasi, apalagi seringkali berita-berita hoax di saat bencana, beredar dimana-mana, jelasnya.

Menyoroti persoalan bencana banjir dan angin puting beliung, Dr. Ir Agus Maryono, Dosen Teknik Sipil UGM menjelaskan, bahwa bencana siklon yang terjadi, ini menunjukkan percepatan dampak dari perubahan iklim semakin nyata.  “ kita memasuki babak baru terkait bencana, sehingga penyelesaianya pun bukan hanya sporadis, bukan hanya sekedar bersih-bersih sungai, tetapi harus ada strategi yang lebih komprehensif, bagaimana membangun masyarakat yang tangguh. Jelasnya

Gerakan untuk mitigasi harus lebih besar lagi, di tengah daya dukung alam yang belum bisa ditingkatkan, sementara sumber daya alam juga masih terjadi degradasi. Kemudian kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah pusat dan daerah itu juga baru saja mulai, ini semua tantangan buat kita. Tambah Maryono.

BMKG memang pantas  di apresiasi, informasi yang dikirimkan sangat akurat serta mejadi rujukan semua pihak, yang belum terlihat adalah bagaimana warning dari BMKG ini bisa digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan. Jelasnya lagi.

Sementara, menurut Medi Herlianto, yang juga anggota IABI, peristiwa siklon dan banjir bandang, merupakan gambaran, masih adanya gap antara pemerintah dengan masyarakat, sehingga dibutuhkan system atau mekanisme stretagi mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Selain itu juga harus dibangun sistem peringatan dini  untuk siklon ini. (RN)

Bo Sangaji Kai, Naskah Kuno yang Menuliskan Peristiwa Meletusnya Gunung Tambora

Risikobencana.co. Jakarta, 28/11-2017. Meletusnya Gunung Agung, mengingatkan  kita akan persitiwa besar yang pernah terjadi di negeri tercinta ini, pada 5 April 1815 Gunung Tambora meletus dan mengguncang dunia. Banyak catatan sejarah yang menulis tentang hal ini. Keganasan letusan Tambora menyebabkan perubahan iklim drastis di Dunia, khususnya di Kawasan Eropa dan Amerika yang dilanda musim dingin yang panjang.  Setahun, langit Eropa diselimuti awan hitam tanpa sinar matahari. Kelaparan dimana-mana, gagal panen,  dan sekaligus menenggelamkan tiga kerajaan di Bima, Kerajaan Sanggar, Kerajaan Pekat, dan Kerajaan Tambora. Semua orang panik dan mengira kiamat akan segera tiba. Salah satu novel yang menggambarkan suasana tersebut adalah karya Mary Shelley yang berjudul ‘Frankenstein’.

Dalam naskah kuno tersebut juga digambarkan bagaimana suasana pasca letusan, dituliskan bahwa tidak ada warga sekitar yang tersisa akibat letusan mahadahsyat itu. Bahkan akibat meletusnya Tambora, diyakini oleh sebagian besar orang kekalahan Napoleon Bonaparte, pertempuran sengit yang terjadi, ditambah dengan cuaca ekstrim dituding sebagai biang kekalahan pasukan terlatih Napoleon, “Hujan turun begitu lebat, tentara tertua dari pasukan itu bahkan tidak pernah melihat kejadian seperti ini,” tulis John Lewis dalam "The Weather of the Waterloo Campaign 16 to 18 June 1815: Did it Change the Course of History?"

Catatan "Napoleon, The Tambora Eruption and Waterloo" karya John Tarttelin turut menyebut pasukan Napoleon digambarkan sangat terganggu oleh hujan lebat yang sedang melanda, dan mereka terpaksa menunda perjalanan ke Waterloo. Sementara itu, pihak balatentara Prusia terus menerjang badai untuk terlebih dahulu mencapai Waterloo.

Thomas Stamford Raffles yang kala itu memerintah Jawa sejak 1811 mencatat peristiwa letusan dahsyat tersebut dalam memoarnya. Ia mencatat letusan pertama terdengar sampai Jawa pada sore hari tanggal 5 April dan setiap 15 menit terus terdengar sampai hari-hari berikutnya. Mulanya, suara ini dianggap suara meriam hingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Yogyakarta, mengira pos terdekat sedang diserang. 

Perahu-perahu di pesisir turut dikerahkan oleh pejabat setempat. Mereka menafsirkan suara dentuman itu sebagai sinyal minta tolong dari kapal rekanan di laut dan perlu segera ditolong. Suara gemuruh ini tidak hanya terdengar sampai ke Jawa, tetapi juga sampai di Ternate dan Maluku. Letusan ini terus terjadi dan kian membesar. 

Yang paling dahsyat terjadi pada pagi pukul tujuh tanggal 10 April. Laporan yang dihimpun William & Nicholas Klingaman berjudul "Tambora Erupts in 1815 and Changes World History" menyebut hampir seluruh isi perut gunung dimuntahkan, yakni magma, abu yang memancar, dan batuan cair yang menembak ke segala arah. Berlangsung sekira satu jam, begitu banyak abu dan debu terlempar berada di udara hingga menutupi pandangan terhadap gunung. 

Peristiwa meletusnya Gunung Tambora, juga dicatat secara rinci dan rapi tertuang dalam Buku “Bo Sangaji Kai” karya seorang Filolog Perancis, Henry Chambert Loir bersama Dr. HJ. Siti Maryam Salahuddin.  Sebenarnya, “Bo Sangaji Kai” merupakan naskah kuno Kerajaan Bima yang aslinya ditulis dengan menggunakan Aksara Bima. Naskah ini kemudian ditulis ulang pada abad ke-19 dengan menggunakan huruf Arab-Melayu, menggunakan kertas dari Belanda dan Cina.


Bo Sangaji Kei juga mencatat, di lereng Tambora, ada tiga kerajaan yang tercatat yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat yang semuanya musnah karena letusan Tambora. Kerajaan Bima sendiri turut mencatat peristiwa mahadahsyat ini.


Di hari puncak letusan yang terjadi pada 10 April itu, tsunami juga menerjang berbagai pulau di Indonesia sebagai dampak dari letusan Tambora. Tercatat, di wilayah Sanggar tsunami menerjang setinggi 4 meter, di Besuki Jawa Timur tsunami setinggi 2 meter terjadi sebelum tengah malam, juga di Kepulauan Maluku. U.S. Geological Survey mencatat korban tewas diperkirakan sebanyak 4.600 jiwa.

Bagi bumi, letusan Tambora berdampak terhadap perubahan iklim global lantaran sulfur dioksida yang turut lepas ke lapisan stratosfer. Musim semi tahun 1815 menjadi terganggu karena debu-debu dan kandungan yang dibawa tertiup angin bergeser ke langit Eropa, Amerika, dan lainnya.

Clive Oppenheimer dalam tulisannya berjudul "Climatic, Environmental and Human Consequences of the Largest known Historic Eruption: Tambora Volcano (Indonesia) 1815" menyebut kabut kering terlihat dari timur laut Amerika Serikat. Hal ini terus berlanjut hingga musim panas 1815. Di belahan bumi utara, terjadi kondisi cuaca ekstrem hingga disebut peristiwa “Tahun Tanpa Musim Panas” pada 1816, karena Eropa menjadi gelap.

Suhu global menurun sekitar 0,4 sampai 0,7 derajat celsius akibat kabut kering yang menyelimuti bumi. Pertanian yang seharusnya mendapat paparan sinar matahari di musim semi menjadi gagal panen di India dan timbul wabah kolera di Bengal pada 1816. Tifus menyerang wilayah Eropa tenggara dan timur Mediterania antara 1816 sampai 1819.

Gagal panen karena suhu dingin dan hujan lebat melanda Inggris dan Irlandia. Kelaparan merata di utara dan barat daya Irlandia karena gagal panen gandum, oat, dan kentang. Jerman dilanda krisis: harga pangan meningkat akibat kelangkaan. Demonstrasi menjadi pemandangan umum di depan pasar dan toko roti, diikuti kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan yang menjadikan kelaparan terburuk di Eropa pada abad ke 19.

Kini, kaldera yang terbentuk di gunung Tambora merupakan kaldera aktif terbesar di dunia. Daerah di sekitar lereng Tambora pun turut menjadi pusat penelitian arkeologi terkait tertimbunnya tiga kerajaan sekaligus. 

HENRI Chambert-Loir dalam Kerajaan Bima dalam Sejarah dan Sastra (2004: 335) yang mengutip Bo Sangaji Kai yang ditulisnya bersama dengan Salahuddin (1999: 87) secara rinci mengisahkan muasal letusan Gunung Tambora tersebut. Mengutip naskah 87, Chambert Loir menulis:


Hijrat Nabi salla –alaihi wa sallama seribu dua ratus tiga puluh genap tahun, tahun Za pada hari Selasa waktu Subuh sehari bulan Jumadilawal (Selasa, 11 April 1815). Tatkala itulah di Tanah Bima datanglah takdir Allah melakukan kodrat iradat atas hamba-Nya. Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu, Kemudian berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang. Kemudian turunlah kersik (pasir kasar, batu kerikil halus) batu dan abu seperti dituang. Lamanya tiga hari dua malam. Maka, heranlah sekalian Hamba-nya akan melihat karunia Rabbi al-alamin yang melakukan faccal li-ma yurid (maksudnya, Allah Taala berbuat sekehendak-Nya). Setelah itu, maka teranglah hari. Rumah dan tanaman sudah rusak semuanya. Demikianlah adanya itu, pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad.


Selain mengisahkan alamat letusan Gunung Tambora, Chambert-Loir (2004: 336) juga mengisahkan asal mulanya meletus Gunung Tambora. Malapetaka yang dialami Negeri Tambora merupakan bentuk kemurkaan Allah Subhanahu wa Taala. (RN-Dari Berbagai Sumber)

Sejarah Panjang Gunung Agung

Risikobencana.co. Jakarta, 28/11-2017. Gunung Agung punya sejarah panjang letusan. Berdasarkan catatan PVMBG, gunung dengan ketinggian 3.142 mdpl (meter diatas permukaan laut) ini pernah 4 kali meletus sejak 1800. Empat kali letusan itu terjadi pada 1808, 1821, 1843, dan terakhir adalah pada 1963.

Erupsi terakhir tahun 1963 terjadi sejak tanggal 18 Februari 1963, dan berakhir pada 27 Januari 1964. Erupsi bersifat magmatis. Letusan gunung itu pada tahun 1963 mengakibatkan 1.148 orang meninggal dan 296 orang luka-luka.

Gunung Agung adalah gunung tertinggi di pulau Bali, Gunung ini terletak di kecamatan RendangKabupaten KarangasemBaliIndonesiaPura Besakih, yang merupakan salah satu Pura terpenting di Bali, terletak di lereng gunung ini.

Bertipe stratovolcano, gunung ini memiliki kawah yang sangat besar dan sangat dalam yang kadang-kadang mengeluarkan asap dan uap air. Dari Pura Besakih gunung ini nampak dengan kerucut runcing sempurna, tetapi sebenarnya puncak gunung ini memanjang dan berakhir pada kawah yang melingkar dan lebar.

Dari puncak gunung Agung kita dapat melihat puncak Gunung Rinjani yang berada di pulau Lombok di sebelah timur, meskipun kedua gunung tertutup awan karena kedua puncak gunung tersebut berada di atas awan, kepulauan Nusa Penida di sebelah selatan beserta pantai-pantainya, termasuk pantai Sanur serta gunung dan danau Batur di sebelah barat laut.

Setelah letusan 1963, praktis Gunung Agung tidak menunjukkan aktivitasnya, baru pada September 2017, mengalami  peningkatan aktivitas.  Gemuruh dan seismik di sekitar gunung berapi dan PVMBG  menaikkan status normal menjadi waspada, kemudian sekitar 122.500 orang dievakuasi dari rumah mereka di sekitar gunung berapi. Kemudian mendeklarasikan zona eksklusi sepanjang 12 kilometer di sekitar gunung berapi tersebut pada tanggal 24 September.

Pada tanggal 22 September 2017, status Gunung Agung dinaikkan dari Siaga menjadi awas. Daerah tersebut mengalami 844 gempa vulkanik pada tanggal 25 September, dan 300 sampai 400 gempa bumi pada tengah hari pada tanggal 26 September. Para hhli seismologi mulai khawatir dengan kondisi gunung yang terus meningkat aktivitasnya. Tetapi mulai akhir Oktober ber-angsur-angsur aktivitas gunung turun drastic. Maka status diturunkan, pada 29 Oktober 2017

Tetapi, kemudian ada letusan freatik kecil yang dilaporkan pada tanggal 21 November 2017, pukul 17.05 WITA dengan kolom abu vulkanik mencapai 3.842 meter (12.605 ft) di atas permukaan laut.  Ribuan orang segera melarikan diri dari wilayah tersebut, dan lebih dari 29.000 pengungsi sementara dilaporkan tinggal di lebih dari 270 lokasi di dekatnya.

Sebuah erupsi magmatik dimulai pada hari Sabtu, 25 November 2017. Letusan dahsyat yang dihasilkan dilaporkan meningkat sekitar 1,5-4 km di atas kawah puncak, melayang ke arah selatan dan membersihkan daerah sekitar dengan lapisan gelap abu tipis, yang menyebabkan beberapa maskapai penerbangan membatalkan penerbangan menuju Australia dan Selandia Baru. Tingkat bahaya resmi tetap di 3, dengan penduduk disarankan untuk tinggal 7,5 km jauhnya dari kawah. Sejauh ini letusannya tampak moderat, dengan kemungkinan letusan lebih intensif dalam waktu dekat. Cahaya jingga kemudian diamati di sekitar kawah di malam hari, menunjukkan bahwa magma segar memang telah sampai ke permukaan. Pada tanggal 26 November 2017, pukul 23:37 WITA, sebuah letusan kedua terjadi. Ini adalah letusan kedua yang meletus dalam waktu kurang dari seminggu.

Kepercayaan masyarakat

Masyarakat Hindu Bali percaya bahwa Gunung Agung adalah tempat bersemayamnya dewa-dewa, dan juga masyarakat mempercayai bahwa di gunung ini terdapat istana dewata. Oleh karena itu, masyarakat Bali menjadikan tempat ini sebagai tempat kramat yang disucikan. Pura Besakih yang berada di puncak Gunung Agung juga luput dari aliran lahar letusan Gunung Agung yang terjadi pada tahun 1963.

Masyarakat percaya bahwa letusan Gunung Agung pada tahun 1963 merupakan peringatan dari Dewata. Dalam catatan sejarah, Pura Besakih dan Gunung Agung menjadi pondasi awal terciptanya masyarakat Bali. Mengutip buku Custodian of the Sacred Mountains: Budaya dan Masyarakat di Pulau Bali karya Thomas A Reuter, menuturkan bahwa Maharishi Markandeya, orang pertama yang memimpin pelarian Majapahit ke Bali, baru berhasil menetap di Bali datang ke kaki Gunung Agung. Sebelumnya, gelombang eksodus yang dipimpin Markandeya berjumlah 800 orang seluruhnya tewas akibat wabah penyakit. (RN-dari berbagai sumber)

Kepala Bidang Mitigasi Gunungapi, Pusat Vulkanologi Dan Mitigasi Bencana Geologi, Badan Geologi, Kementerian Energi Dan Sumber Daya Mineral, Gede Suantika mengatakan, sejak letusan terakhir pada tahun 1963, Gunung Agung belum pernah menunjukkan kenaikan aktivitas yang signifikan. Sejak tahun 1963 status gunung itu dipatok Aktif Normal. “Gak pernah naik satusnya dulu-dulu. Ini pertama kali (naik status) sejak 1963,” kata dia.

Menurut Gede, skenario bencana yang diantisipasi jika aktivitas gunung api itu terus naik adalah skenario letusan gunung itu pada tahun 1963. “Karakteristiknya kita mengacu pada letusan 1963, letusanya besar, kalau meletus,” kata dia.

Gede mengatakan, korban jiwa akibat letusan Gunung Gede pada 1963 itu akibat terkena awan panas. “Pada 1963 itu awan panas sampai ke utara, sampai ke pantai. Ke Tulamben, tempat wisata snorkling di situ,” kata dia.

Menurut Gede, jejak bekas awan panas dari letusan Gunung Agung itu masih terlihat. Dia menunjukkan foto satelit yang diambil dari Google Maps yang menunjukkan garis lekukan yang telrihat jelas dari puncak menuju pantai. “Ini bekas letusan masa lalu, masih kelihatan. Ini bekas awan panas,” kata dia. (RN)

Saatnya Kamu Menjadi Bagian dari Indonesia Tangguh

Kamu bisa berbagi inspirasi, pengetahuan, dan keselamatan dengan bergabung bersama risikobencana.co
Mari mencintai Indonesia segenap siaga!