Bencana Alam

Latest Article

Sejarah Letusan Kawah Sileri yang Makan Ratusan Korban Jiwa

Risikobencana.co. Magelang, 1/8/2017  - Kawah Sileri di kawasan Dataran Tinggi Dieng tepatnya berada di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Banjarnegara, Jawa Tengah. Kawah yang berada di tengah kaldera tersebut paling banyak memakan korban jiwa karena aktivitas letusannya yang paling aktif hingga kini.

Dari data yang diperoleh detikcom di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunung Api Dieng di Desa Karangtengah, setidaknya sejak tahun 1943 kawah Sileri terpantau aktivitasnya. Bahkan pada 13 Desember 1944 sekitar 117 orang meninggal akibat letusan kawah Sileri.

Kawah Sileri kembali menunjukkan aktivitasnya pada tahun 1956, namun tidak ada korban jiwa. Hingga pada tanggal 13 Desember 1964 Kawah Sileri kembali memakan korban, sebanyak 114 jiwa meninggal akibat letusan freatik eksplosif dan terus berlanjut pada 2003, 2009, hingga saat ini.

"Itu memang di sebelah Sileri ada Desa Jawera, itu satu kampung pada 1944 terjadi letusan di situ dan desa itu tertutup karena letusan Sileri, disertai material. Makin ke sini makin kecil, terus 2003 akhir, 2009, terus sampai saat ini," kata Kepala Pos Pengamatan Gunung Api Dieng, Surip, saat berbincang dengan detikcom, Minggu (2/7/2017).

Menurutnya, saat terjadi letusan kawah Sileri pada 1944 tersebut, material batu yang terlempar dari kawah Sileri bisa mencapai radius 2 kilometer dengan berat batu mencapai 1,5 kilogram.

"Dulu pas kejadian material batu itu sampai sini (pos pengamatan Gunung Api Dieng), batu itu terlempar sampai desa sini (Desa Karangtengah), dengan berat sekitar 1,5 kilogram batunya. Padahal jarak Sileri 2 kilometer dari sini," ucapnya.

Dari kawah-kawah yang berada di kawasan kaldera Dataran Tinggi Dieng, kawah Sileri lah yang paling aktif setelah kawah Timbang yang mengeluarkan gas CO2. Di mana gas yang dikeluarkan tidak berbau, tidak berwarna dan menyebabkan kematian seketika karena keluar dari rekahan-rekahan tanah di mana 142 warga Dieng juga pernah menjadi korban kawah Timbang pada tahun 1979.
(arb/nif)

 

news.detik.com 

 

Rumah Teletubbies di Jogjakarta

Risikbencana.co. Jakrta, 1/8/2017.  Tidak berjarak terlalu jauh dari  Candi Ratu Boko dan Candi Prambanan, Anda dapat berkunjung ke ‘Rumah Teletubbies’. Mulanya, gapura putih dengan lekung sederhana yang menopang papan bertuliskan “Selamat Datang di New Klepen” akan menyapa setiap pengunjung. Gapura itu seolah membingkai panorama; keindahan gunung yang berpadu dengan ketenteraman masjid.

Rumah Teletubbies, begitu warga menyebut dusun tahan gempa ini. Penamaan tersebut, tentunya didasari atas kemiripan bangunan New Klepen dengan rumah tokoh kartun yang populer awal tahun 2000-an. Dengan  bentuk bangunan unik serupa separuh bola berwarna putih, tentunya hati siapa pun pasti terpikat.

Tak heran, hingga saat ini New Klepen kerap dikunjungi para pelancong, sehingga bisa dikatakan menjadi desa wisata. Pelbagai sarana hiburan, seperti pusat informasi, play ground, warung makan dan souvernir pun dibangun sebagai bentuk kesadaran warga atas potensi ekonomi. Tiket masuk diberlakukan, bahkan paket wisata pun dibuat. Ada paket homestay seharga Rp55.000 untuk penginapan semalam dengan tiga kali makan, juga paket wisata Rp200.000 yang ditambah  jamuan tari tradisional—seperti Randa, Tek-tek, Jathilan, serta organ tunggal. Biasanya, pada hari libur, pengunjung selalu ramai. Dan, Teletubbies pun ikut ambil bagian mengisi liburan serta hiburan pengunjung.

Sebanyak 71 rumah hunian, 6 MCK komunal, serta 3 fasilitas umum—musala, aula, dan poliklinik—yang terlihat menghibur dan tersebar rapi di atas rumput hijau itu, sebenarnya adalah rumah domes (kubah), yang dibangun pasca gempa yang terjadi pada 2006 di Dusun Sengir, Sumberharjo, Jogjakarta. Pada waktu itu, gempa membuat kawasan ambles, sehingga warga setempat direlokasi di pemukiman baru yang, akhirnya, dinamakan New Klepen.

Rumah domes dibangun atas kerja sama antara pemerintah Republik Indonesia dengan World Association of Non-governmental Organizations (WANGO), serta Domes for the World Foundation (DFTW).

Meski dari luar terlihat tidak besar, ketika memasuki rumah dengan diameter 7 meter dan tinggi sekitar 4,5 meter itu, luasnya rumah baru terasa. Rupanya, setiap rumah memiliki dua kamar, dapur, ruang tamu, dan kamar mandi. Bahkan, terdapat lantai dua yang lantainya berupa kayu, namun tidak sepenuhnya menutupi bagian dalam rumah. Di tengahnya terbuka dan terpagar kayu. Di puncak bangunan, terdapat ventilasi udara, sehingga ketika siang terasa hangat, dan malam terasa sejuk.

Selain keunikan dan kenyamanan, yang ditawarkan rumah domes adalah keamanan. Sebab berbentuk bulat dan tidak memiliki sambungan, maka rumah tersebut memiliki ketahanan terhadap gempa. Faktor ketahanan karena tidak adanya sambungan dalam bangunan, yang merupakan bagian paling rapuh apabila diterjang gempa. Tentu saja, yang paling berbahaya dari gempa adalah tertimpa reruntuhan bangunan.

Didonatori oleh Ali Alabar, pemilik Emaar Property Dubai, rumah domes dibangun dengan standar keamanan dalam tujuan mereduksi risiko bencana. Pada mulanya, rangka berbentuk setengah bola ditempatkan, kemudian dibalut cor beton.

Meski belum menjadi kawasan hunian ideal, pembangunan New Klepen juga merupakan pembangunan harapan bagi para korban gempa. Setidaknya, konstruksi yang tahan gempa bisa membantu mereka melanjutkan hidup tanpa dibayangi ketakutan sebesar dahulu. Apalagi, banyaknya pengunjung bisa membawa sedikit-banyak perbaikan dari sisi ekonomi, juga kegembiraan secara sosial yang tidak bisa dinilai secara material. Dan di ‘Desa Teletubbies’ itu, sebagian warga percaya bahwa harapan adalah sesuatu yang kokoh dan tidak mudah dirubuhkan oleh gempa. (RN)

Saatnya Kamu Menjadi Bagian dari Indonesia Tangguh

Kamu bisa berbagi inspirasi, pengetahuan, dan keselamatan dengan bergabung bersama risikobencana.co
Mari mencintai Indonesia segenap siaga!

Gabung Sekarang