Mengenalkan Budaya Sadar Bencana di Cianjur

Mengenalkan Budaya Sadar Bencana di Cianjur
'

Risikobencana.co, Cianjur, 24/4/2018 - Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, merupakan daerah dengan potensi bencana alam tinggi khususnya untuk bencana tanah longsor, gempabumi, letusan gunung berapi, dan puting beliung. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cianjur mencatat dalam kurun waktu Januari hingga Maret 2018 terjadi sedikitnya 25 kejadian bencana alam di Cianjur. Kepala BPBD Cianjur, Doddy Permadi mengatakan sepanjang Januari terdapat 10 kejadian bencana, Februari lima kejadian, dan Maret 10 kejadian bencana alam yang tersebar di seluruh wilayah Cianjur di tahun 2018. “Bencana didominasi oleh pergerakan tanah dengan delapan kejadian, gempabumi sebanyak enam kejadian dan banjir lima kejadian serta longsor enam kejadian,” katanya. Hal ini disampaikan saat sosialisasikan mitigasi bencana dan penanggulangannya yang berlangsung di SDN Jambudipa 1, Cianjur, Jawa Barat pada Sabtu lalu (21/04). Kegiatan ini diselenggarakan oleh BNPB dan BPBD Cianjur guna mengurangi dampak bencana dengan dihadiri sebanyak 220 pelajar dari empat sekolah yaitu SDN Jambudipa 1, SDN Jambudipa 3, SDN Warungkondang, dan SDN Giriwinaya.

Kejadian bencana adalah kejadian khusus karena itu tidak bisa diduga kapan akan terjadi. Hal yang dapat dilakukan adalah mempersiapkan reaksi siswa serta memperbaiki sikap dan meningkatkan kemampuan siswa menghadapi bencana. Bermanfaat memberikan pengalaman kepada siswa bagaimana sebaiknya bertindak saat terjadinya bencana gempabumi. Siswa diberikan pemahaman dan pengalaman tentang perilaku bencana, jalur evakuasi, pola pikir dan tindakan yang perlu atau tidak perlu dilakukan saat terjadi bencana, mengetahui tempat evakuasi darurat dan yang paling penting adalah memutuskan tindakan yang harus diambil dalam waktu yang singkat itu dengan mental yang baik.

Kepala Bidang Humas BNPB, Rita Rosita Simatupang mengatakan, sosialisasi ini dilakukan untuk mengedukasi siswa agar siap saat dan bila terjadi bencana. “Kita lakukan edukasi mulai dari permainan dan lagu tentang penyelamatan diri dari bencana, memperkenalkan peralatan BPBD, penampilan dongeng dengan kandungan pesan sadar bencana, pemutaran film untuk mengetahui apa saja yang harus dilakukan atau dipersiapkan dan kemana mereka sebaiknya menyelamatkan diri saat terjadi bencana, serta simulasi bencana” jelasnya. “Kita lakukan edukasi ini kepada para pelajar sedini mungkin karena usia muda seperti mereka mudah menyerap hal baru. Diharapkan mereka juga dapat menjadi penerus informasi bagi keluarganya terhadap apa yang mereka dapatkan dari sosialisasi ini,” tambahnya.

Mengingat sekolah adalah pusat pembelajaran dan tempat belajar yang terbaik bagi siswa dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana maka sosialisasi dan latihan simulasi kesiapsiagaan menghadapi bencana ini perlu memperoleh dukungan dari pemerintah daerah, semua yang bekerja dan berada di lingkungan sekolah, dan partisipasi aktif siswa. Ada beberapa tindakan yang dilakukan dalam kesempatan latihan simulasi ini. Evakuasi atau keluar bangunan sekolah dan berkumpul di tempat aman. Merunduk, melindungi kepala dan berlindung di bawah meja/benda yang kokoh dan kuat. Terakhir simulasi memadamkan api dengan air dan alat pemadam api portable yang diberikan oleh Satuan Polisi Pamong Praja dan Pemadam Kebakaran Cianjur.

Latihan simulasi berguna untuk menguji tingkat kesiapsiagaan dan membiasakan diri para guru, siswa dan lainnya dalam menghadapi bencana. Pada acara ini, guru dan siswa belajar dan melakukan secara bersama-sama latihan simulasi yang difokuskan pada gempabumi, kebakaran, serta pengenalan penggunaan peralatan darurat.

Dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana siswa perlu meningkatkan pengetahuan tentang cara-cara penyelamatan ketika terjadi bencana, bersedia dan mampu melakukannya. Ini dapat diperoleh dengan cepat melalui latihan simulasi. Latihan simulasi sangat baik bagi siswa untuk membentuk sikap disiplin, serta membangun kebersamaan, kekompakan dan saling tolong menolong. Latihan simulasi dengan dibimbing oleh guru-guru dan didukung sekolah dapat meningkatkan kesadaran dan keterampilan siswa dalam melakukan penyelamatan bila terjadi bencana. Hal yang perlu diingat adalah agar latihan simulasi dapat berhasil dengan baik maka latihan ini harus direncanakan, disiapkan dan dilaksanakan secara rutin, terus menerus dan berulang-ulang. Diharapkan selanjutnya sekolah dan siswa dapat mengembangkan dan melakukan latihan simulasi sesuai dengan kebutuhan masing-masing. 

Para murid siswa-siswi yang hadir umumnya masih awam dengan mitigasi bencana maupun penanganan bencana. Dengan kunjungan ini para murid dapat mengenal dan menambah pengetahuannya di bidang bencana. Mempelajari ancaman bahaya juga sangat penting meningkatkan budaya sadar bencana. Siswa secara tidak langsung dapat mengetahui apakah sekolah aman dari ancaman bahaya bencana, sesuai keadaan dan lokasi masing-masing, maka siswa harus belajar, memperhatikan keadaan dan lokasi, serta bertanya kepada guru, teman sekolah dan masyarakat sekitarnya mengenai hal ini. 

Pemberdayaan anak usia sejak dini untuk memahami mitigasi bencana merupakan langkah awal membangun masyarakat sadar bencana. Ketika terjadi bencana siswa, guru dan masyarakat tidak lagi kebingungan dan panik karena telah memahami bagaimana cara mengurangi risiko bencana. Dengan harapan pengetahuan yang didapat ditularkan pada lingkungan sekitar dalam rangka mengurangi risiko bencana.

Selanjutnya BNPB dan BPBD Cianjur pada malam harinya, berlokasi di depan sekolah, tepatnya di Lapangan Jagakarsa, Desa Jambudipa, Kecamatan Warungkondang, Cianjur kembali melakukan sosialisasi budaya sadar bencana  melalui pentas budaya wayang golek. Penampilan wayang yang berjudul "Babad Alas Amer" dengan Dalang Opick Sunandar Sunarya dari Wayang Golek Mekar Arum 2, Giriharja merupakan sebuah kesenian tradisional rakyat setempat yang dikemas untuk memperkenalkan strategi budaya masyarakat yang sadar bencana.

Acara seperti ini menjadi terobosan menarik, yakni upaya pemerintah mendekatkan diri dengan masyarakat melalui metode ‘pertunra’ alias pertunjukan rakyat, yang tentunya disesuaikan dengan kultur dan kebutuhan warga lokal. Kegiatan sosialisasi yang dikemas dalam pertunjukan rakyat ini selain untuk menyampaikan pesan kebencanaan juga untuk sarana memberikan hiburan kepada masyarakat.

Acara hiburan rakyat yang dimulai sejak pukul 19.00 WIB ini berlangsung cukup meriah walaupun diiringi hujan. Dihadiri oleh Sekda Kabupaten Cianjur, Kapolsek Cianjur, Danramil Warungkondang, Kalak BPBD Kabupaten Cianjur, dan beberapa Kepala SKPD di Kabupaten Cianjur.

Menurut Eri, salah satu pedagang yg berjualan di lokasi acara antusias warga yang hadir dikarenakan sudah lamanya diselenggarakan acara wayang golek di tempat ini. "Biasanya tempat ini hanya melakukan hiburan biasa (dangdut). Wayang golek diselenggarakan di daerah selatan, daerah pantai. Sudah belasan tahun saya tidak melihat wayang golek di sini."

Dalam sambutannya Rita Rosita mengingatkan mengenai Longsor Cianjur pada Oktober tahun lalu yang menyisakan kesedihan, sekitar 300 unit rumah rusak dan 3.984 jiwa mengungsi. Masyarakat akan lupa dengan bencana apabila kejadian tersebut terjadi lima atau sepuluh tahun lalu. Kemudian masyarakat tidak waspada terhadap berbagai ancaman atau potensi bahaya di sekitar kita. "Kami sangat mengharapkan masyarakat yang hadir di sini tidak hanya mengikuti kisah yang disampaikan oleh dalang, tetapi juga menerima pesan-pesan yang disampaikan terkait bencana," kata Rita.

Perubahan paradigma dari tanggap darurat bencana, bahwa bencana tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima begitu saja. Tetapi, juga bisa diantisipasi kejadian bencana, korban dan diminimalisir dampaknya.

Sosialisasi ini penting bagi warga Cianjur yang tinggal di kawasan zona merah yang artinya masih sangat berpotensi terulangnya dan terjadinya bencana. Dody menjelaskan ada sepuluh potensi bencana di Cianjur. Banjir, banjir bandang, tanah longsor, gunungapi, kebakaran hutan dan lahan, tsunami, kekeringan, cuaca ekstrim, angin puting beliung, dan gempabumi. “Selain itu dengan pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat memberikan informasi atau melaporkan bila ada tanda-tanda terjadinya bencana. Contohnya bila melihat keretakan tanah mereka tidak perlu ragu untuk melapor,” tuturnya.

Penyampaian pesan sadar bencana melalui pendekatan kebudayaan menjadi salah satu metode yang dapat lebih dikembangkan. Di sini, masyarakat menikmati kebutuhan mereka (kesenian tradisional yang harus terus dijaga dari generasi ke generasi) sembari mendapatkan informasi yang positif. Tanpa merasa digurui dan dijejali informasi yang dipaksakan. Selain itu pementasan pertunjukan rakyat juga dimaksudkan untuk memberikan kesempatan kepada para seniman untuk menampilkan kebolehannya dalam olah seni dan "nguri-uri" (ikut melestarikan) budaya.

Sumber: https://bit.ly/2K9boWs

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostPelajar di Sukabumi Rutinkan Latihan Simulasi Bencana