Sekolahku Aman

Sekolahku Aman
'

Pada Juli 2009, Indonesia, melalui tiga kementerian dan satu lembaga, mencanangkan satu juta sekolah dan rumah sakit aman. Kampanye itu diinisiasi oleh Platform Nasional Pengurangan Risiko Bencana (Planas PRB), serta didukung pelbagai organisasi nasional, internasional, serta lembaga lokal. Sebanyak 37.000 dukungan—baik dari lembaga maupun perorangan—membanjiri kampanye itu dalam bentuk penyebarluasan informasi atau dukungan lainnya.

Selain karena konstruksi bangunannya yang kurang layak, sekolah-sekolah di Indonesia juga begitu rentan diterpa bencana alam yang mengintai. Meski tidak selalu terekspos oleh media, hampir setiap hari selalu ada sekolah yang rubuh atau mengalami kerusakan.

Membangun sekolah aman adalah membangun kesiapsiagaan terhadap kondisi darurat dan bencana. Kesiapsiagaan ini berisi tindakan-tindakan yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas komunitas dalam menghadapi bencana. Dalam buku Sekolahku Aman yang dinisiasi oleh Planas PRB, Perkumpulan Skala, Badan Nasional Pengurangan Bencana (BNPB), dan Unilever, kesiapsiagaan sekolah memerlukan upaya penting sebagai berikut:

  1. Membentuk satgas kesiapsiagaan sekolah untuk kondisi darurat dan bencana, dan melaksanakan fungsinya, yaitu:

Membentuk, meninjau dan mengimplementasikan rencana kesiapsiagaan sekolah

Membentuk brigade kondisi darurat yang difungsikan dalam meresepon situasi darurat dan melakukan evakuasi, sehingga tanggung jawab tidak dibebankan kepada siswa

Merencanakan, menyelenggarakan dan melaksanakan pelatihan dan latihan intensif kesiapsiagaan darurat untuk semua siswa dan staf, termasuk mereka yang memiliki kebutuhan khusus

Memasang sistem peringatan darurat di tempat yang mudah diakses oleh seluruh populasi sekolah, agar dapat memberikan informasi tentang bahaya yang tengah terjadi—atau mungkin terjadi

Dalam situasi krisis, melakukan koordinasi dan komunikasi dengan pejabat setempat, misalnya polisi, DamKar, rumah sakit, atau orang tua siswa.

Mengintegrasikan kesiapsiagaan kondisi darurat dalam kurikulum

Menyediakan anggaran untuk pembelian, penyimpanan dan perawatan pasokan peralatan darurat, serta materi program instruksi

Membuat prosedur perawatan berkala.

  1. Membangun karakteristik rancangan kesiapsiagaan sekolah untuk kondisi darurat bencana, dengan syarat-syarat sebagai berikut:

Rancangan harus menyediakan petunjuk tindakan cepat yang spesifik, namun cukup fleksibel agar bisa dilakukan penyesuaian dan perubahan apabila terjadi situasi yang tidak diduga

Rancangan harus ditinjau ulang dan disesuaikan dengan pertambahan populasi sekolah, perubahan pada rencana pengembangan fisik sekolah, kemajuan teknis dan teknologi, serta perubahan peraturan serta kebijakan di masyarakat

Rancangan harus berisikan prosedur langkah demi langkah sederhana yang jelas dan mudah dilaksanakan

Rancangan harus berisikan prosedur standar untuk respon darurat tertentu

Rancangan harus berisikan instruksi spesifik cadangan, dengan rantai komando yang jelas, misalnya, jika Kepala Sekolah atau Satgas Darurat tidak ada di tempat, maka harus ditentukan siapa penanggung jawabnya.

   Sedangkan komponen rancangan kesiapsiagaan sekolah untuk kondisi darurat dan bencana adalah sebagai berikut:

Informasi lengkap kontak, seperti kantor, rumah, ponsel, dan alamat surel semua anggota Komite Kesiapsiagaan Sekolah untuk kondisi darurat bencana.

Nomor telepon penting untuk kondisi darurat, misalnya pemadam kebakaran, rumah sakit, stasiun radio dan televisi, dan lain sebagainya

Peta dan denah

Sistem peringatan dini untuk menginformasikan bahaya yang terjadi atau akan terjadi pada anggota populasi sekolah. Selain sistem peringatan untuk publik, teknologi seperti surel dan ponsel juga bisa digunakan

Rencana dan peta evakuasi sekolah untuk bencana tertentu, yang berisikan lokasi dan rute di dalam dan di luar sekolah

Daftar gedung sekolah yang bisa digunakan sebagai area penampungan jika terjadi bencana

Latihan intensif dan pengenalan kesiapsiagaan untuk kondisi darurat bagi semua siswa, guru dan staf

Prosedur untuk memberikan informasi kepada orang tua atau wali selama masa darurat di sekolah, misalnya radio lokal, TV, internet, telepon atau ponsel

Daftar inventaris sekolah, apabila mungkin terdapat peralatan yang bisa menimbulkan bahaya pada saat terjadi bencana atau keadaan darurat

Kepemilikan alat transportasi dalam kondisi darurat untuk siswa

Alternatif peringatan dini untuk memperingati seluruh kampus jika dan saat terjadi kerusakan saluran listrik

Rencana kontijensi untuk keberlangsungan pembelajaran siswa, misalnya belajar di rumah, atau menyelenggarakan kelas di lokasi lain, apabila sekolah ditutup sementara

Penyimpanan cadangan di luar sekolah untuk dokumen penting sekolah.

  1. Memahami tanggung jawab pemangku kepentingan dalam kondisi darurat,  yang dapat dijelaskan sebagai berikut:

   3.1. Guru dan Staf Administrasi

Berpartisipasi dalam pembuatan rancangan

Berpartisipasi dalam menyelenggarakan program pelatihan kesiapsiagaan untuk kondisi darurat

Menerima pelatihan keterampilan cara menangani anak didik dan rekan kerja dalam situasi darurat

Menerima pelatihan prosedur pertolongan pertama

Menyediakan instruksi tentang kesiapsiagaan untuk kondisi darurat dan teknik praktis bertahan hidup yang sesuai dengan tingkatan kelas

Menyediakan pelatihan dan kegiatan kepemimpinan yang berkelanjutan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan meningkatkan kemampuan siswa untuk mengurus diri sendiri, serta membantu orang lain selama kondisi darurat, termasuk dalam masa penahanan paksa

Bersiap untuk membantu siswa dan staf yang berkebutuhan khusus.

    3.2. Staf Teknik dan Perawatan Sekolah

Melaporkan kerusakan struktural dan bahaya keamanan ke Satgas Kesiapsiagaan untuk kondisi darurat sekolah

Mengidentifikasi katup tertutup dan saklar untuk gas, minyak, air dan listrik

Memasang papan pengumuman yang menunjukkan lokasi perlengkapan perlindungan untuk digunakan personil di kondisi darurat

Mengajari semua staf sekolah cara menggunakan alat pemadam kebakaran dan peralatan darurat lainnya

Memelihara simpanan peralatan dan perlengkapan

Memberi saran kepada Satgas Kesiapsiagaan untuk kondisi darurat tentang wilayah berbahaya dan terlindungi yang ada di lingkungan sekolah, perlengkapan yang tersedia, serta pasokan dan sumber tenaga alternatif.

    3.3. Orang Tua dan Wali Siswa

Berpartisipasi aktif dalam pembuatan dan penerapan rancangan

Mendukung program kesiapsiagaan untuk kondisi darurat di sekolah.

Menjadi relawan dalam penyusunan rencana kesiapsiagaan untuk kondisi darurat dan selama kejadian berlangsung

Memberikan masukan lewat organisasi yang terkait dengan sekolah

Menyediakan informasi peringatan kondisi darurat terbaru bagi siswa di sekolah

Mengetahui rencana kesiapsiagaan untuk kondisi darurat di tingkat komunitas dan sekolah

Mendorong koordinasi antar pejabat, pelaku bisnis dan sekolah guna memaksimalkan usaha kesiapsiagaan dan respon

Mendorong siswa untuk mendiskusikan pelajaran teknik kesiapsiagaan dan respon untuk kondisi darurat yang mereka dapatkan di sekolah dengan mereka

Menerima pelatihan prosedur kesiapsiagaan untuk kondisi darurat yang mereka dapatkan di sekolah dengan orang tua mereka

Berlatih kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di rumah, untuk memperkuat pelatihan di sekolah, menyediakan model, dan memastikan keamanan keluarga.

    3.4. Siswa

Bekerja sama selama pelatihan dan latihan intensif keadaan darurat

Belajar untuk bertanggung jawab atas dirinya dan orang lain

Membangun kesadaran di antara siswa tentang berbagai bahaya yang dapat mempengaruhi sekolah

Menyelenggarakan kegiatan untuk mempromosikan kesadaran akan keamanan

Mempersiapkan peralatan pertolongan pertama dan mempelajari prosedur pertolongan pertama

Mengurus anak yang lebih kecil dan membantu teman sekelas yang berkebutuhan khusus

Berperan aktif dalam merespon kondisi darurat sekolah dan melakukan berbagai tugas yang sudah dilatihkan dengan baik.

Sumber:

Sekolahku Aman, diterjemahkan dari buku yang diterbitkan UNISDR.

Sumber: http://disasterchannel.co/2015/06/16/sekolahku-aman/

 

 

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostFoto, Film dan Upaya Pengurangan Risiko Bencana
Next PostMengenalkan Budaya Sadar Bencana di Cianjur