Bo Sangaji Kai, Naskah Kuno yang Menuliskan Peristiwa Meletusnya Gunung Tambora

Bo Sangaji Kai, Naskah Kuno yang Menuliskan Peristiwa Meletusnya Gunung Tambora
'

Risikobencana.co. Jakarta, 28/11-2017. Meletusnya Gunung Agung, mengingatkan  kita akan persitiwa besar yang pernah terjadi di negeri tercinta ini, pada 5 April 1815 Gunung Tambora meletus dan mengguncang dunia. Banyak catatan sejarah yang menulis tentang hal ini. Keganasan letusan Tambora menyebabkan perubahan iklim drastis di Dunia, khususnya di Kawasan Eropa dan Amerika yang dilanda musim dingin yang panjang.  Setahun, langit Eropa diselimuti awan hitam tanpa sinar matahari. Kelaparan dimana-mana, gagal panen,  dan sekaligus menenggelamkan tiga kerajaan di Bima, Kerajaan Sanggar, Kerajaan Pekat, dan Kerajaan Tambora. Semua orang panik dan mengira kiamat akan segera tiba. Salah satu novel yang menggambarkan suasana tersebut adalah karya Mary Shelley yang berjudul ‘Frankenstein’.

Dalam naskah kuno tersebut juga digambarkan bagaimana suasana pasca letusan, dituliskan bahwa tidak ada warga sekitar yang tersisa akibat letusan mahadahsyat itu. Bahkan akibat meletusnya Tambora, diyakini oleh sebagian besar orang kekalahan Napoleon Bonaparte, pertempuran sengit yang terjadi, ditambah dengan cuaca ekstrim dituding sebagai biang kekalahan pasukan terlatih Napoleon, “Hujan turun begitu lebat, tentara tertua dari pasukan itu bahkan tidak pernah melihat kejadian seperti ini,” tulis John Lewis dalam "The Weather of the Waterloo Campaign 16 to 18 June 1815: Did it Change the Course of History?"

Catatan "Napoleon, The Tambora Eruption and Waterloo" karya John Tarttelin turut menyebut pasukan Napoleon digambarkan sangat terganggu oleh hujan lebat yang sedang melanda, dan mereka terpaksa menunda perjalanan ke Waterloo. Sementara itu, pihak balatentara Prusia terus menerjang badai untuk terlebih dahulu mencapai Waterloo.

Thomas Stamford Raffles yang kala itu memerintah Jawa sejak 1811 mencatat peristiwa letusan dahsyat tersebut dalam memoarnya. Ia mencatat letusan pertama terdengar sampai Jawa pada sore hari tanggal 5 April dan setiap 15 menit terus terdengar sampai hari-hari berikutnya. Mulanya, suara ini dianggap suara meriam hingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Yogyakarta, mengira pos terdekat sedang diserang. 

Perahu-perahu di pesisir turut dikerahkan oleh pejabat setempat. Mereka menafsirkan suara dentuman itu sebagai sinyal minta tolong dari kapal rekanan di laut dan perlu segera ditolong. Suara gemuruh ini tidak hanya terdengar sampai ke Jawa, tetapi juga sampai di Ternate dan Maluku. Letusan ini terus terjadi dan kian membesar. 

Yang paling dahsyat terjadi pada pagi pukul tujuh tanggal 10 April. Laporan yang dihimpun William & Nicholas Klingaman berjudul "Tambora Erupts in 1815 and Changes World History" menyebut hampir seluruh isi perut gunung dimuntahkan, yakni magma, abu yang memancar, dan batuan cair yang menembak ke segala arah. Berlangsung sekira satu jam, begitu banyak abu dan debu terlempar berada di udara hingga menutupi pandangan terhadap gunung. 

Peristiwa meletusnya Gunung Tambora, juga dicatat secara rinci dan rapi tertuang dalam Buku “Bo Sangaji Kai” karya seorang Filolog Perancis, Henry Chambert Loir bersama Dr. HJ. Siti Maryam Salahuddin.  Sebenarnya, “Bo Sangaji Kai” merupakan naskah kuno Kerajaan Bima yang aslinya ditulis dengan menggunakan Aksara Bima. Naskah ini kemudian ditulis ulang pada abad ke-19 dengan menggunakan huruf Arab-Melayu, menggunakan kertas dari Belanda dan Cina.


Bo Sangaji Kei juga mencatat, di lereng Tambora, ada tiga kerajaan yang tercatat yaitu Kerajaan Tambora, Kerajaan Sanggar, dan Kerajaan Pekat yang semuanya musnah karena letusan Tambora. Kerajaan Bima sendiri turut mencatat peristiwa mahadahsyat ini.


Di hari puncak letusan yang terjadi pada 10 April itu, tsunami juga menerjang berbagai pulau di Indonesia sebagai dampak dari letusan Tambora. Tercatat, di wilayah Sanggar tsunami menerjang setinggi 4 meter, di Besuki Jawa Timur tsunami setinggi 2 meter terjadi sebelum tengah malam, juga di Kepulauan Maluku. U.S. Geological Survey mencatat korban tewas diperkirakan sebanyak 4.600 jiwa.

Bagi bumi, letusan Tambora berdampak terhadap perubahan iklim global lantaran sulfur dioksida yang turut lepas ke lapisan stratosfer. Musim semi tahun 1815 menjadi terganggu karena debu-debu dan kandungan yang dibawa tertiup angin bergeser ke langit Eropa, Amerika, dan lainnya.

Clive Oppenheimer dalam tulisannya berjudul "Climatic, Environmental and Human Consequences of the Largest known Historic Eruption: Tambora Volcano (Indonesia) 1815" menyebut kabut kering terlihat dari timur laut Amerika Serikat. Hal ini terus berlanjut hingga musim panas 1815. Di belahan bumi utara, terjadi kondisi cuaca ekstrem hingga disebut peristiwa “Tahun Tanpa Musim Panas” pada 1816, karena Eropa menjadi gelap.

Suhu global menurun sekitar 0,4 sampai 0,7 derajat celsius akibat kabut kering yang menyelimuti bumi. Pertanian yang seharusnya mendapat paparan sinar matahari di musim semi menjadi gagal panen di India dan timbul wabah kolera di Bengal pada 1816. Tifus menyerang wilayah Eropa tenggara dan timur Mediterania antara 1816 sampai 1819.

Gagal panen karena suhu dingin dan hujan lebat melanda Inggris dan Irlandia. Kelaparan merata di utara dan barat daya Irlandia karena gagal panen gandum, oat, dan kentang. Jerman dilanda krisis: harga pangan meningkat akibat kelangkaan. Demonstrasi menjadi pemandangan umum di depan pasar dan toko roti, diikuti kerusuhan, pembakaran, dan penjarahan yang menjadikan kelaparan terburuk di Eropa pada abad ke 19.

Kini, kaldera yang terbentuk di gunung Tambora merupakan kaldera aktif terbesar di dunia. Daerah di sekitar lereng Tambora pun turut menjadi pusat penelitian arkeologi terkait tertimbunnya tiga kerajaan sekaligus. 

HENRI Chambert-Loir dalam Kerajaan Bima dalam Sejarah dan Sastra (2004: 335) yang mengutip Bo Sangaji Kai yang ditulisnya bersama dengan Salahuddin (1999: 87) secara rinci mengisahkan muasal letusan Gunung Tambora tersebut. Mengutip naskah 87, Chambert Loir menulis:


Hijrat Nabi salla –alaihi wa sallama seribu dua ratus tiga puluh genap tahun, tahun Za pada hari Selasa waktu Subuh sehari bulan Jumadilawal (Selasa, 11 April 1815). Tatkala itulah di Tanah Bima datanglah takdir Allah melakukan kodrat iradat atas hamba-Nya. Maka gelap berbalik lagi lebih daripada malam itu, Kemudian berbunyilah seperti bunyi meriam orang perang. Kemudian turunlah kersik (pasir kasar, batu kerikil halus) batu dan abu seperti dituang. Lamanya tiga hari dua malam. Maka, heranlah sekalian Hamba-nya akan melihat karunia Rabbi al-alamin yang melakukan faccal li-ma yurid (maksudnya, Allah Taala berbuat sekehendak-Nya). Setelah itu, maka teranglah hari. Rumah dan tanaman sudah rusak semuanya. Demikianlah adanya itu, pecah Gunung Tambora menjadi habis mati orang Tambora dan Pekat pada masa Raja Tambora bernama Abdul Gafur dan Raja Pekat bernama Muhammad.


Selain mengisahkan alamat letusan Gunung Tambora, Chambert-Loir (2004: 336) juga mengisahkan asal mulanya meletus Gunung Tambora. Malapetaka yang dialami Negeri Tambora merupakan bentuk kemurkaan Allah Subhanahu wa Taala. (RN-Dari Berbagai Sumber)

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostSejarah Panjang Gunung Agung
Next PostCara Yang Dilakukan Dalam Evakuasi Korban Dalam Medan Ketinggian