Bencana Alam akibat Hidrometorologi Ancaman Nyata

Bencana Alam akibat Hidrometorologi Ancaman Nyata
'

Risikobencana.co. Jakarta, 6/12/2017 - Setiap pagi,  rasanya belum sreg kalau belum melihat  ramalan cuaca,  hal ini memang menjadi kebiasaan baru, ketika cuaca seringkali tidak bersahabat. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), selalu menyebarkan informasi dengan berbagai model. Karena nyatanya informasi tersebut cukup aplikatif, mudah digunakan  juga mudah dipehami oleh pembacanya.

Menurut DR. Widada Sulistya DEA, Sekretaris Utama BMKG, dalam diskusi Ikatan Ahli Bencana Indonesia (IABI) - yang berlangsung 5 Desember 2017, di Hotel Sentral, Jakarta - memang  tugas kami adalah memberikan informasi tentang iklim, tetapi hanya sampai disitu, tugas selanjutnya yang menyebutkan bahwa hal ini memiliki potensi bencana,  adalah BNPB.

Sementara  Menurut  Tri Handoko Seto, pakar meteorology tropis BPPT mencatat bahwa,kondisi tidak terlalu basah, polutan tidak terlalu berpengaruh terhadap kelebatan hujan. Tetapi ketika basah, polutan bisa menjadi pemicu hujan yag lebat dan siklon, di Cina contohnya, polutan menjadi penyebab siklon di sekitar negeri tirai bambu tersebut.

Apa yang sudah dilakukan oleh BMKG dengan mengirimkan informasi ke berbagai pihak sudah sangat baik, informasi yang diberikan juga sangat akurat, tetapi budaya untuk membaca kemudian bergerak untuk menghindari  belum tumbuh di masyarakat. Sehingga menurut saya memanfaatkan media mainstream menjadi sangat penting untuk sosialisasi, apalagi seringkali berita-berita hoax di saat bencana, beredar dimana-mana, jelasnya.

Menyoroti persoalan bencana banjir dan angin puting beliung, Dr. Ir Agus Maryono, Dosen Teknik Sipil UGM menjelaskan, bahwa bencana siklon yang terjadi, ini menunjukkan percepatan dampak dari perubahan iklim semakin nyata.  “ kita memasuki babak baru terkait bencana, sehingga penyelesaianya pun bukan hanya sporadis, bukan hanya sekedar bersih-bersih sungai, tetapi harus ada strategi yang lebih komprehensif, bagaimana membangun masyarakat yang tangguh. Jelasnya

Gerakan untuk mitigasi harus lebih besar lagi, di tengah daya dukung alam yang belum bisa ditingkatkan, sementara sumber daya alam juga masih terjadi degradasi. Kemudian kerjasama antara pemerintah pusat, pemerintah pusat dan daerah itu juga baru saja mulai, ini semua tantangan buat kita. Tambah Maryono.

BMKG memang pantas  di apresiasi, informasi yang dikirimkan sangat akurat serta mejadi rujukan semua pihak, yang belum terlihat adalah bagaimana warning dari BMKG ini bisa digunakan sebagai bahan perencanaan pembangunan. Jelasnya lagi.

Sementara, menurut Medi Herlianto, yang juga anggota IABI, peristiwa siklon dan banjir bandang, merupakan gambaran, masih adanya gap antara pemerintah dengan masyarakat, sehingga dibutuhkan system atau mekanisme stretagi mengkomunikasikannya kepada masyarakat. Selain itu juga harus dibangun sistem peringatan dini  untuk siklon ini. (RN)

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostBo Sangaji Kai, Naskah Kuno yang Menuliskan Peristiwa Meletusnya Gunung Tambora
Next PostCara Yang Dilakukan Dalam Evakuasi Korban Dalam Medan Ketinggian