Hutang Untuk Alam

Hutang Untuk Alam
'

Risikobencana.co. Jakarta. 19/10/2017. Masih ingat dengan Sungai Citarum, yang ramai menjadi perbincangan, kala diberitakan oleh media asing, dan kemudian dinobatkan sebagai sungai terkotor dan terjorok nomor satu di seluruh dunia ? Penobatan itu tampaknya tidak merubah sungai itu menjadi bersih. Padahal Indonesia harus berhutang untuk memperbaiki kondisi sungai tersebut.

Sungai Citarum, adalah salah satu sungai terpanjang di Provinsi Jawa Barat membentang sepanjang kurang lebih 270 km dari Gunung Wayang Kabupaten Bandung dan berhilir di pantai utara Jawa tepatnya di daerah Ujung Karawang. Secara historis, Sungai Citarum merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah Kerajaan Tarumanegara, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, bahkan sejarah peradaban manusia di Jawa Barat.

Selain memiliki nilai sejarah, sungai Citarum juga mempunyai fungsi ekonomi dan sosial. Setidaknya 25 juta penduduk menggantungkan hidupnya dari sungai Citarum. Terdapat tiga waduk yang berada di Sungai Citarum, yaitu waduk Saguling, Cirata dan Jatiluhur, yang selain berfungsi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) juga sebagaimana layaknya sebuah waduk , ketiga waduk tersebut juga mengairi lahan pertanian, pemenuhan kebutuhan air bersih dan juga mencegah banjir. Kapasitas listrik yang dihasilkan dari ketiga waduk tersebut kurang lebih sebesar 1.400 MW dan menjadi sumber air irigasi bagi 240.000 hektar sawah. Selain itu, 80% kebutuhan air bersih di Jakarta juga bergantung dari sungai ini sebagai sumber air baku. Sungai Citarum juga menjadi pemasok air bagi industri-industri yang berada di sepanjang daerah aliran sungai (DAS).

Untuk mengatasi kualitas sungai, maka tahun 2008, Pemerintah Indonesia mengakses pinjaman kepada ADB (Asian Development Bank), senilai 500 juta USD yang digunakan untuk memperbaiki sungai tersebut. Program hutang ini diberi nama Integrated Citarum Water Resources Managament Investment Program (ICWRMIP). Hutang ICWRMIP berdurasi selama 15 tahun dan dibagi ke dalam empat tranche, dimana untuk tranche pertama telah diberikan sebesar 50 juta USD untuk memperbaiki -merehabilitasi- Tarum Kanal Barat (TKB). Skema hutang ICWRMIP menggunakan skema pembiayaan baru, yang oleh ADB disebut sebagai Multi-Tranche Financing Facility (MFF), dimana mekanisme pembiayaannya seperti “kartu kredit”, dengan 500 juta USD sebagai batas pinjaman. Sebelum memberikan hutang kepada pemerintah Indonesia sebelumnya ADB juga telah memberikan empat kali bantuan teknis (Technical Assistance) untuk persiapan ICWRMIP yang nilai sebesar 2,18 juta USD.

(bersambung : Kemana uang pinjaman mengalir ?). (Rini)

 

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostBersih-Bersih Sungai Berantas
Next PostCara Yang Dilakukan Dalam Evakuasi Korban Dalam Medan Ketinggian