Ibu Patmi dan Chico Mendes

Ibu Patmi dan Chico Mendes
'

Risikobencana.co. Jakarta, 28/7/2017 - Nelongso, mungkin itu kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perjuangan Ibu Patmi, perempuan 48 tahun, warga desa Larangan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati. Perempuan ini bersama kerabat dan sahabatnya dengan dukungan beberapa aktivis melakukan aksi menyemen kaki sebagai bentuk protes mereka atas dibangunnya pabrik semen di kabupaten Rembang.

Keputusan Patmi kembali ke Jakarta, karena secarik surat Surat Keputusan (SK) Gubernur Jawa Tengah bernomor 660.1/6 Tahun 2017 yang ditandatangani Kamis (23 Fberuari), yang berisi ijin lingkungan yang baru untuk PT Semen Indonesia di Kabupaten Rembang. Ijin lingkungan semen  di Rembang ini merupakan tindak lanjut rekomendasi Komisi Penilai AMDAL(KPA) yang telah melaksanakan sidang penilaian addendum Amdal pada 2 Februari 2017.

Tentu isi keputusan ini mengecewakan warga Kendeng. Keputusan dimana PT Semen Indonesia Rembang diberi ijin membangun pabrik berkapasitas 3 juta ton per tahun. Kegiatan yang akan dilakukan adalah penambangan batu gamping dan tanah liat di beberapa desa. Termasuk kampung Ibu Patmi.

Maka, Ibu Patmi dan perempuan tangguh lainnya kembali datang ke Jakarta, tepatnya tanggal 13 Maret 2017, dan memasung kedua kakinya dengan semen, inilah bentuk protes jilid ke dua perempuan-perempuan yang juga didukung oleh aktivis perempuan dari Jaringan Tambang (Jatam).

Semangat Patmi dan perempuan Kendeng lainnya, mengingatkan kita kembali akan perjuangan-perjuangan perempuan lainnya. Kita masih belum lupa akan aksi cabut bibit tanaman pinus, yang ditanam di tanah adat wanita di Porsea  saat PT Indo Rayon Utama melakukan penanaman di tanah adat mereka di tahun 90an. Kemudian aksi  “telanjang” menghadang traktor yang dilakukan seorang ibu,  ketika tanah-tanah di seputar kuningan akan digusur untuk dijadikan jalan, yang kini menjadi jalan Casablanca.

Sama dan sebangun, protes warga Kendeng, Porsea mengingatkan kita pada aksi yang dilakukan oleh Chico Mendes, seorang pejuang lingkungan, khususnya hutan tropic di kawasan Acre, Brasil. Dia adalah seorang penderas karet, pemimpin perserikatan dan penjaga hutan Amazon. Pembunuhan terhadapnya, menjadi berita hangat, 29 tahun silam, Chico Mendes ditemukan tewas di belakang rumahnya peluru panas menembus dadanya. Kematian Chico Mendes menjadi sejarah baru perjuangan aktivis lingkungan di kawasan Amazon.

Chico, sepeti warga yang tinggal di sekitar hutan pada umumnya, hidup dalam kemiskinan, dia tinggal di wilayah sekitar Amazon, bernama Xapuri di Acre. Secara turun temurun, orang tua Mendes, juga menjadi penyadap lateks dari pohon karet lokal yang digunakan untuk persenjataan perang. Sejak kecil Mendes sudah bekerja sebagai penyadap karet di sebuah perkebunan besar.

Sebagai buruh, Chico Mendes, kerap mengikuti pertemuan-pertemuan buruh, selain itu walau tidak mengecap pendidikan formal, Mendes memiliki semangat tinggi untuk belajar, dia belajar membaca, kemudian banyak mendengarkan siaran-siaran radio asing. Dari sanalah kesadarannya mulai tumbuh, Chico Mendes menyadari bahwa dia  dan rekan-rekannya sedang dieksploitasi dan diberlakukan tidak adil oleh taipan pemilik industri karet.

Chico Mendes kemudian membentuk serikat pekerja, mereka sering memprotes berbagai aturan . Mendes menorehkan sejarah ketika tahun 1980 membentuk Dewan nasional Penyadap Karet, dan menyatukannya dengan serikta penyadap karet dan masyarakat di sekitar sungai, mereka menyebutnya Masyarakat Hutan.  Melalui organisasi ini kemudian Mendes bergerak untuk mensejahterakan masyarakat miskin di sekitar hutan dan melawan perusakan terhadap hutan di wilayah sekitar.

Tahun 80-an Brasil berada dalam kekuasaan militer yang mendorong pembabatan hutan Amzon untuk peternakan, begitu juga hutan karet yang menjadi sumber kehidupan masyarakat di sekitar Acre, maka para pnyadap karet kemudian mengalami pengusiran, karena perluasan areal peternakan dan juga untuk pertanian. Masyarakat yang terusir kemudian ditempatkan dalam kolonisasi di negara tersebut. Padahal masyarakat tersebut masih dalam kondisi miskin, dimana penyakit dan persoalan social masih dihadapi oleh mereka.

Maka Chico Mendes dan kawan-kawan mencoba melindungi tanah-tanah mereka dengan menjaganya, menggunakan gergaji mesin mereka memblokade kampung-kampung dan menghadang buldoser agar tidak menghancurkan kampung-kampung dan tanah-tanah yang mereka miliki.

Dukungan kepada Chico Mendes terus bertambah, bersama aktivis konservasi mereka menjaga lahan-lahan, dengan sebutan program “kawasan suaka ekstraktif”, memanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari dan menjaga hutan. ternyata yang dilakukan oleh Chico Mendes, bukan saja menyelamatkan kampung, tanah dan lahan, tetapi juga dia berhasil menjaga hutan dan kesinambungan manusia.

Tetapi upaya ini membuat marah para tuan tanah pendukungnya, tahun 1987, Chico Mendes menggagalkan penguasaan lahan atas pemilik peternakan Darly Alves da Silva dengan membabat yang berencana untuk membabat hutan, padahal kawasan tersebut adalah kawasan konservasi.

Beberapa hari menjelang Natal di tahun 1988, persisnya 22 Desember, Chico Mendes ditemukan tewas di dekat rumahnya di Xapuri. Yang menyedihkan putranya Da Silva dan seorang laki-laki sebagai diduga sebagai pembunuhnya.

Matinya Chico Mendes, tidak menghentikan gerakan menyelamatkan hutan, tetapi gerakan untuk menyelamatkan tanah, lahan dan hutan justru semakin meluas. Seketika, pemberitaan tentang Mendes meluas, bahkan sampai mengisi berita-berita di media internasional.

Kematian seorang pemimpin-Chico Mendes- tidak membuat semangat rekan-rekannya  mengendur, sepuluh tahun kemudian rekan-rekan Mendes menciptakan Forest Governmentyang mengembangkan model pembangunan hijau dan rendah karbon, dimana hutan-hutan tetap dijaga. Kini kawasan hutan yang dijaga dengan mekanisme ini terus bertambah, ada sekitar 12 juta hektar yang kini dikelalo dengan prinsip-prinsip berkesinambungan.

Berkaca dari Chico Mendes, gerakan menyemen kaki masyarakat Kendeng, tampaknya tidak akan terhenti karena berpulangnya sang “kartini” ibu Patmi, yang berjuang dengan kesadarannya, bahwa bukit gamping adalah tempat menyimpan air bersih yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat di kawasan Kendeng.

Ibu Patmi telah pergi, dia memilih mati dengan caranya, berjuang untuk bumi dan sumber air, karena Ibu Patmi merasa kuatir bahwa sumber air untuk anak cucu dan kehidupan akan musnah, bila tidak dijaga. Selamat jalan Ibu Patmi, kaulah sejatinya pahlawan. Semoga Husnul Khatimah. Amin. (Rini)

 

 

 

 

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostKisah Siswa Jadi Relawan Bencana Manado
Next PostPengantin Tebar Bibit Ikan Untuk Kembalikan Ekosistem Sungai