Lebih Dari 3 Juta Warga Mengungsi dan Menderita Akibat Bencana dan Perubahan Iklim selama 2017

Lebih Dari 3 Juta Warga Mengungsi dan Menderita Akibat Bencana dan Perubahan Iklim selama 2017
'

Risikobencana.co. Jakarta, 10/1/2017 - Hampir semua wilayah di Indonesia, Sepanjang 2017 diguncang berbagai bencana alam, seperti bencana banjir, longsor hingga puting beliung, yang digolongkan sebagai bencana hidrometereologi, gempa bumi dan juga erupsi gunung api, yang dikategorika sebagai bencana geologi.

Menurut data badan PBB yang focus terhadap kebencanaan, UNISDR, diketahui bahwa lebih dari 80% peristiwa bencana terjadi akibat dari perubahan iklim global. Karenanya kontribusi perubahan iklim terhadap banyak peristiwa bencana merupakan hal yang sangat menyita perhatian.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI), menyebutkan bahwa selama tahun 2017, terdapat 1.911 kejadian bencana di Indonesia.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho, telah terjadi peningkatan kejadian bencana dari tahun ke tahun. Masih menurutnya terdapat 95 persen kejadian bencana di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi. Bencana jenis ini dikenal sangat erat kaitannya dengan pengaruh cuaca dan iklim.

Masih menurut data BNBP terdapat jumlah korban meninggal dan hilang mencapai 174 orang, korban luka-luka 877 orang, sedangkan korban mengungsi dan menderita berjumlah lebih dari 3 juta orang.

Akibat berbagai bencana juga terhitung lebih dari 24 ribu rumah mengalami kerusakan, serta 1.500 keruskan fasilitas umum berupa kesehatan, peribadatan, dan Pendidikan. Hal ini semua mengancam nasib kelayakan hidup banyak warga yang terdampak bencana di bergai daerah di Indonesia.

Sedangkan jika melihat tren jumlah kejadian bencana, wilayah Jawa, khususnya Jawa Barat, Jawa Tengah , dan Jawa Timur merupakan 3 Provinsi yang mengalami kejadian bencana tertinggi di Indonesia. Hal tersebut belum lagi diperparah dengan dua siklon yang mengancam wilayah Jawa akhir-akhir ini seperti Siklon Dahlia dan Cempaka. Sebagai dampaknya siklon Tropis Cempaka terhitung sudah ada 41 orang meninggal dan hilang.

Sementara itu diketahui bahwa ada jutaan masyarakat yang bermukim di daerah rawan bencana. menurut data international, dari UNICEF melalui Indonesia Climate Change Report menyebutkan bahwa Indonesia berada pada ranking pertama dari 76 negara didunia untuk risiko Tsunami, ketiga  dari 153 untuk risiko gempa bumi, pertama untuk longsor dan ke enam untuk banjir dari 162 negara di dunia. Ini menandakan bahwa ada banyak ancaman yang akan mengakibatkan Indonesia dengan rawan risiko bencana terbesar didunia serta potensi untuk migrasi masyarakat juga begitu besar akibat rusaknya lahan dan tempat tinggal mereka.

Menurut Prof. Dr. Sudibyakto, M.S, Ketua Prodi Magister Manajemen Bencana UGM beberapa waktu lalu pernah mengatakan bahwa, “beberapa sektor sensitiv seperti dalam bidang pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, pertanian, kesehatan, infrastuktur, energi, dan pariwisata, serta sosial humaniora merupakan sektor yang akan terimbas serius apabila terjadi bencana”. Paparnya.

Sudibyakto juga menyampaikan bahwa Indonesia masih lemah dalam perumusan kebijakan iklim internasional. Pasalnya, hingga saat ini belum banyak dilakukan penelitian terkait dampak perubahan iklim di Indonesia.

Disisi lain konferensi United Nation Framework on Climate Change (UNFCC) atau COP23 di Bonn, Jerman yang telah usai sejak 17 November 2017 lalu. Dikatakan “Pada konferensi tersebut poin penting bagi Indonesia adalah untuk menimba pengalaman-pengalaman negara-negara lain yang sudah meimplemetasikan konsep penurunan emisi karbon”. Menurut Satya Widya Yudha, Wakil Ketua Komisi VII DPR yang ikut menjadi pembicara di Paviliun Indonesia pada COP23 yang dituan rumahkan oleh Fiji. Masih menurutnya, bahwa dalam rangka mencapai target emisi Indonesia harus bersinergi secara komrehensif dan melibatkan seluruh daerah secara nyata.

Oleh karenanya dengan potensi dampak yang diakibatkan dari hubungan perubahan iklim dan bencana di Indonesia begitu besar. Hal itu juga jelas akan berdampak pada nasib jutaan masyarakat yang berpotensi untuk mengungsi dan bahkan bermigrasi akibat hasil terbruk dari bencana. Pemerintah dan segenap masyarakat selalu diharapkan untuk bisa saling bersinergi untuk mengurangsi ririko yang ada. (Muahamad Marwan)

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous Post Cara Melindungi Data pribadi dan perusahaan Saat Terjadi Bencana Alam