Sekolah Gunung

Back

Kolaborasi Multi Sektor Turut Menyukseskan Penyelenggaran Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung Tahun 2017

Kerjasama yang baik antara berbagai stake holder perlu diacungi jempol dalam pembukaan penyelenggaraan sekolah sungai angkatan ke IV dan sekolah gunung angkatan I di Candi Plaosan, Prambanan, Klaten pada tanggal 6 Agustus 2017. Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB yang didukung oleh berbagai Kementerian, seperti Kemenko PMK, Kemen PU Pera, KLHK, dan pemerintah Jawa Tengah, pemerintah Kabupaten Klaten serta perguruan tinggi, yakni Universitas Gadjah Mada dan UPN Veteran Yogyakarta dan komunitas-komunitas dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Terselenggaranya Sekolah Sungai dan Gunung ini pun diharapkan dapat mewujudkan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS) secara berkesinambungan yang melibatkan multi sektor dengan aksi di hulu, tengah hingga hilir atau ecosystem based.

Menurut Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB, B. Wisnu Widjaja, Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung merupakan upaya massif yang melibatkan semua pihak sebagai bentuk implementasi Gerakan Pengurangan Risiko Bencana.  Gerakan ini akan berinvestasi pada Sumber Daya Manusia melalui peningkatan kesadaran dan mobilisasi massa untuk meningkatkan Manajemen Risiko Bencana yang mengacu pada Kerangka Sendai dalam Pengurangan Risiko Bencana (Sendai Framework for Disaster Risk Reduction-SFDRR 2015-2030) dan tujuan SDG’s (Sustainibility Development Goals).

Dukungan terhadap Sekolah Sungai dan Gunung pun diberikan oleh Gubernur Jawa Tengah. Ganjar Pranowo menyatakan keterlibatan seluruh pihak diperlukan dalam pelaksanaan Sekolah Sungai dan Gunung termasuk peran dari perguruan tinggi  melalui program kuliah kerja nyata/KKN tematik didesa-desa yang bersinergi dengan program ini. Ia pun menambahkan setiap daerah harus belajar dari daerah lain yang telah berhasil menerapkan kebijakan berbasis PRB.

Direktur Pengurangan Risiko Bencana, Lilik Kurniawan, menyampaikan bahwa Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung pada tahun 2017 akan dilaksanakan secara serempak di 35 Kabupaten/Kota akhir tahun 2017. Kegiatan ini akan memberikan edukasi paling tidak sebanyak 35.000 masyarakat dalam hal pengelolaan ekosistem diwilayah DAS untuk mengurangi risiko bencana hidrometeorologi yang kecenderunggannya semakin sering terjadi. Strategi yang ditempuh oleh BNPB untuk kegiatan ini adalah dengan memberdayakan tokoh-tokoh penggiat lingkungan di masyarakat sebagai fasilitator lapangan. Fasilitator tersebut sebelumnya akan diberi pembekalan dari pengalaman-pengalaman baik yang sudah dilakukan oleh berbagai komunitas yang ada di Yogyakarta dan sekitarnya, seperti komunitas Kali Code, Winongo, Banyu Bening – Rejo Dadi Sleman, Balerante, Sidorejo, Nglanggeran, dan Jurang Jero. Pembelajaran yang akan dilakukan merupakan materi pembelajaran dan paktik baik yang berkaitan dengan pengelolaan sungai dan gunung yang telah dilaksanakan oleh komunitas-komunitas di Yogyakarta selama ini.

Lebih lanjut, BNPB menjelaskan bahwa pembekalan sekolah sungai hingga 2017 telah diselenggarakan sebanyak 3 kali, yaitu pembekalan fasilitator sekolah Sungai angkatan I dan II pada tahun 2016 untuk para fasilitator daerah dari 23 Kabupaten/Kota serta angkatan III pada bulan Juli 2017 yang lalu. Secara total, saat ini BNPB telah memiliki lebih dari 150 fasilitator daerah untuk Sekolah Sungai dan Sekolah Laut.

Dalam rangkaian pembukaan Sekolah Sungai dan Sekolah Gunung ini, Gubernur Jawa Tengah bersama perwakilan BNPB dan Kementerian/Lembaga yang hadir serta perwakilan tokoh masyarakat juga menyampaikan Deklarasi tentang Gerakan Masyarakat Cinta Sungai dan Gunung untuk Indonesia Sejahtera. Diharapkan dengan kepedulian masyarakat bersama pemerintah dan dunia usaha terhadap kelestarian lingkungan dapat mewujudkan bangsa yang tangguh dari bencana.

Menggagas Sekolah Gunung Menopang Mitigasi

TIDAK bisa dipungkiri, kita hidup di negara yang tidak lepas dari bencana alam. Kenyataan ini harus kita terima, ketahui dan waspadai dampaknya, terutama potensi korban jiwa. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) tahun 2017 telah terjadi bencana alam sejumlah 884 kejadian di hampir seluruh wilayah Indonesia. Bencana alam yang terjadi dalam rentang 3 bulan sudah membawa korban meninggal dunia sebanyak 120 orang dan mengakibatkan 961.440 orang menderita serta mengungsi (data BNPB sampai Maret 2017).

Fakta ini menandakan masyarakat masih minim pengetahuannya dalam mitigasi bencana alam, akibatnya masih ada korban jiwa dan kerugian lainnya. Mitigasi bencana adalah rangkaian upaya mengurangi risiko bencana, yakni melalui pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman bencana. Belajar dari peristiwa erupsi Gunung Merapi tahun 2010 yang membawa korban jiwa sebanyak 347 jiwa; desa-desa berada pada Area Terdampak Langsung (ATL) erupsi atau pada Kawasan Rawan Bencana (KRB) III berbenah diri.

Mereka sadar bahwa upaya mitigasi bencana jauh lebih baik dibanding tindakan penanggulangan. Pasalnya tindakan penanggulangan seringkali tidak dilaksanakan atau memperhatikan terhadap bencana yang mengakibatkan kepunahan spesies tumbuhan atau satwa liar. Padahal kepunahan satu spesies dapat menyebabkan terganggunya suatu ekosistem.

Gagasan Desa Balerante

Desa Balerante yang berada di Kecamatan Kemalang, Kabupaten Klaten merupakan salah satu desa yang berada pada ATL dan KRB III. Kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM) yang berada di wilayah administrasi Desa Balerante terkena dampak parah tersapu awan panas erupsi 2010. Meskipun semua rumah hancur tersapu awan panas, warga Balerante masih bersyukur meski peristiwa tersebut membawa korban jiwa 1 orang, padahal jarak dari Puncak Merapi sekitar 4 Km.

Hal ini tidak lepas dari peran tokoh masyarakat yang sigap turut membantu kelancaran proses evakuasi dengan menyediakan sarana transportasi secara swadaya. Selain itu Pemdes Balerante juga sudah mempunyai Sistem Informasi Desa (SID) yang sangat membantu dalam mitigasi bencana. Dalam SID tidak hanya berisi data monografi desa, tapi juga jumlah sarana transportasi tiap rumah yang dapat digunakan untuk evakuasi.

Data dan informasi dalam SID ini tidak hanya membantu desa dalam memetakan situasi dan pengambilan keputusan pada kondisi normal, tapi juga saat kondisi darurat. Meskipun rumah dan harta benda hilang akibat erupsi, namun hal itu tidak mematahkan semangat warga Balerante untuk bangkit menata hidup kembali. Bermodalkan kekuatan sendiri dan gotong royong, serta ditambah dengan dukungan berbagai pihak, kehidupan sosial ekonomi warga Balerante mulai tertata kembali. Semangat serta proses untuk bangkit kembali ini yang menjadikan BNPB menggagas Desa Balerante sebagai Sekolah Gunung, yakni lokasi untuk belajar pengelolaan mitigasi bencana alam.

Mengubah Pola Pikir

Tujuan gagasan ini adalah untuk mengubah pola pikir pariwisata destruktif menjadi pariwisata hijau, setelah meningkatnya kunjungan wisata di Desa Balerante (Puguh, 2017). Selain itu juga bertujuan untuk melestarikan sumber daya alam di Balerante secara berkelanjutan. Tentu gagasan ini dilandaskan pada Perpres Nomor 70 tahun 2014 tentang Rencana Tata Ruang Kawasan TNGM.

Kawasan TNGM di Desa Balerante sendiri sebagian besar adalah zona rehabilitasi yang sudah ditanami dengan jenis tumbuhan asli Merapi, dan telah membentuk ekosistem hutan. Area ini diharapkan dapat menjadi benteng atau tembok hijau penahan luncuran awan panas dan sistem peringatan dini alami. Selain itu zona rehabilitasi juga dapat menjadi lokasi penelitian dan pembelajaran tentang suksesi maupun konservasi alam.

Gagasan Sekolah Gunung merupakan salah satu upaya menjadikan kawasan rawan bencana menjadi pusat pembelajaran konservasi yang menopang mitigasi bencana.Apalagi BNPB mencanangkan Hari Kesiapsiagaan Bencana Nasional (HKBN) pada 26 April 2017, yang bertujuan untuk membudayakan latihan secara terpadu, terencana dan berkesinambungan guna meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan kesiapsiagaan masyarakat menuju Indonesia Tangguh Bencana.

(Arif Sulfiantono Shut MSc MSi. Pengendali Ekosistem Hutan TNGM dan Koordinator Asosiasi Ahli Perubahan Iklim&Kehutanan (APIK) Indonesia Wilayah DIY-Jawa Tengah. Artikel ini dimuat Surat Kabar Harian Kedaulatan Rakyat, Rabu 25 April 2017)

Sumber : http://krjogja.com/web/news/read/31056/Menggagas_Sekolah_Gunung_Menopang_Mitigasi

Badan Nasional Penanggulangan Bencana Resmi Buka Sekolah Gunung

Klaten,(klaten.sorot.co)--Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) resmi membuka Sekolah Gunung angkatan I. Sekolah ini dimaksudkan untuk edukasi dan melatih masyarakat tentang pelestarian lingkungan gunung.

Direktur Pengurangan Resiko Bencana (PRB) BNPB Lilik Kurniawan mengemukakan, sedikitnya ada 14 kabupaten/kota yang bergabung dalam Sekolah Gunung angkatan I. Nantinya fasilitator dari masing-masing kabupaten/kota menjadi mentor bagi peserta Sekolah Gunung.

Sama seperti Sekolah Sungai yang telah ada sebelumnya, Sekolah Gunung digelar untuk melatih dan membekali calon fasilitator dalam mengelola dan menjaga lingkungan di gunung.

Dengan demikian upaya pengurangan resiko bencana sinergis dari hulu ke hilir. Pengurangan resiko bencana dibagi jadi yakni hulu, tengah, dan hilir. Bagian hulu mencakup restorasi wilayah pegunungan, bagian tengah berupa restorasi sungai, dan hilir restorasi laut.

”Kalau kita lihat bencana yang ada di Indonesia 90% bencana hidrometrologi bukan geologi lagi. Bencana yang disebabkan karena faktor cuaca seperti banjir, longsor dan angin topan. Maka itu diperlukan antisipasi dan penanganan yang tepat sejak dini,” kata Lilik usai pembukaan Sekolah Sungai angkatan IV dan Sekolah Gunung angkatan I di kawasan Candi Plaosan, Minggu petang (06/08/2017).

Sementara itu, data BPBD Jawa Tengah ada 2.118 kejadian bencana pada tahun 2016. Rinciannya 296 kejadian banjir, 927 longsor, 468 kebakaran dan 419 angin topan. Total akibat bencana tahun lalu mencapai Rp 3,2 triliun.

Sumber : http://sorotklaten.co/berita-klaten-3426-badan-nasional-penanggulangan-bencana-resmi-buka-sekolah-gunung.html

Saatnya Kamu Menjadi Bagian dari Indonesia Tangguh

Kamu bisa berbagi inspirasi, pengetahuan, dan keselamatan dengan bergabung bersama risikobencana.co
Mari mencintai Indonesia segenap siaga!

Gabung Sekarang