Sekolah Sungai

Back

Max Lomban Resmikan Sekolah Sungai di Bitung

Disasterchannel.co, Bitung, 12/9/2017 - Walikota Bitung, Max Lomban dan Wakil Walikota Bitung, Maurits Mantiri membuka kegiatan sosialisasi sekolah sungai Mota Bitung dan peletakan batu pertama pembuatan taman sungai , di kuala bir Girian.

Lomban mengukuhkan sejumlah komunitas sekolah sungai seperti SMP Negeri Dua kota Bitung, SMP Bukit Kasih Girian Permai, SD GMIM 23 Girian dan STIE PETRA Kota Bitung.

“Saya berharap komunitas ini bisa bermanfaat bagi Kota Bitung dan membuat sejarah baru diKota Bitung yang tercinta ini sehingga bisa berjenjang ke sekolah lingkungan nantinya,” kata Walikota.

Ia berharap dengan adanya sekolah sungai akan menyadarkan semua pihak untuk mengerti betapa pentingnya sungai , hutan, gunung dan laut.

“Jadi intinya kita perlu menyelamatkan dan memanfaatkan sungai , melalui komunitas sekolah sungai, kiranya selalu memberi rekomendasi kepada pemerintah untuk membuat apa kedepannya. Setelah selesai wajib mensosialisasikan ilmu ke sekolah, agar makin banyak yang tau tentang pentingnya sungai,” katanya.

Selain sosialisasi Sekolah Sungai, Pemerintah Kota Bitung bersama Komunitas Pecinta sungai bersama seluruh  kalangan terkait merencanakan akan membuat taman sungai. Pada kesempatan itu pula Walikota Bitung melakukan peletakkan batu pertama pembangunan taman sungai Sekolah Sungai dan pihak PDAM Bitung serta mengukuhkan komunitas sekolah sungai yang terdiri dari siswa SMP N 2 Bitung, SMP Bukit Kasih Girian Permai, SD GMIM 23 Girian dan mahasiswa STIE Petra Bitung.

Lebih menarik lagi, Ketua TP-PKK Kota Bitung  Ny Khouni Lomban-Rawung pemerhati dan pecinta lignkungan yang juga Duta Yaki dan penggagas Go Green didaulat sebagai Kepala Sekolah (Kepsek)  Sekolah Lingkungan dengan membawahi Wakil Kepala Sekolah Sungai Ferdy Pangalila, Wakil Kepala Sekolah Gunung Abineno Mangentang, Wakil Kepala sekolah Hutan dan Satwa Ronald Mokalu, Wakil Kepala Sekolah Laut Frangky Runtukahu serta Wakil Kepala Sekolah 3B (bersih Udara, Bersih Dalam Tanah, Bersih ASN) Julius Ondang. (Dwi)

 

Sumber : Pelbagai sumber

 

Komunitas Hijau Banjarnegara Selenggarakan Kegiatan Sekolah Sungai

Risikobencana.co. Banjarnegara,16//9/2017. Komunitas Hijau Banjarnegara yang didukung oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Badan Perencanaan, Penelitian dan Pengembangan (BAPERLITBANG), Dinas Lingkungan Hidup (DLH) , Dinas Pariwisata dan PT. Indonesia Power  selenggarakan Pendidikan Kilat Sekolah Sungai Banjarnegara.

Kegiatan yang selenggarakan selama dua hari ini, dihadiri oleh berbagai komunitas. Kegiatan ini merupakan media belajar bagi para relawan dan penggiat kegiatan sungai untuk peningkatan kapasitas anggota, membangun komitmen, kepedulian dan meningkatkan fungsi ekosistem sungai, serta untuk mengedukasi masyarakat dalam perlindungan dan pelestarian sungai. (Sumarlan)

BNPB bersama Komunitas Peduli Kali Loji mengadakan susur sungai Kali Loji Pekalongan

Pekalongan, 11 september 2017. BNPB bersama Komunitas Peduli Kali Loji mengadakan susur sungai Kali Loji di Kota Pekalongan, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan pembekalan fasilitator sekolah sungai Level 2.Kegiatan menyusuri sungai loji dimulai dari Taman Patiunus hingga ke muara Kali Loji.

Kali Loji memiliki permasalahan lingkungan yang sangat komplek, air berwarna hitam, bau, kotor, dan banyak sampah serta dikelilingi kawasan rumah penduduk yang cukup padat dan kumuh. Hal ini menjadi pembelajaran bagi peserta pembekalan fasilitator  terkait bagaimana pengelolaan sumber daya sungai yang efektif dengan memperhatikan berbagai aspek, baik aspek fisik maupun aspek sosial dan ekonomi masyarakat serta perlunya pelibatan masyarakat secara aktif didalamnya. (Firza)

Pembekalan Fasilitator Sekolah Sungai Level Dua kembali diselenggarakan BNPB di Pekalongan

Pekalongan,11 September 2017. Pembekalan fasilitator sekolah sungai leveldua  secara resmi dibuka oleh direktur PRB BNPB. Kegiatan ini merupakan inisiasi dari BNPB dan UGM yang didukung oleh Komunitas Peduli Kali Loji Pekalongan yang merupakan sarana untuk berbagi informasi, pengetahuan dan pengalaman dalam pengelolaan sungai.

Melalui pembekalan fasilitator sekolaah sungai level dua ini diharapkan dapat melahirkan kader-kader dan para pengiat sungai yang memiliki dedikasi, komitmen dan kepedulian untuk mengembalikan daerah aliran sungai (DAS), meningkatkan fungsi ekosistem sungai, fungsi sosial, fungsi perekonomian dan fungsi edukasi dalam rangka peningkatan kualitas hidup masyarakat. (Lilik.K)

90% Bencana di Indonesia Hidrometeorologi, BNPB Gelar Sekolah Sungai

Yogyakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan bencana paling banyak terjadi di Indonesia adalah bencana hidrometeorologi. Angkanya mencapai 90 persen.

"Bencana meningkat, yang paling banyak terjadi bencana hidrometeorologi yang terkait dengan air dengan cuaca itu 90 persen," ujar Deputi Bidang pencegahan Kesiapsiagaan BNPB, B Wisnu Widjaja di tengah kegiatan Sekolah Sungai di Kalibuntung, Karangwaru, Yogyakarta, Rabu (26/7/2017).

Sebagai langkah antisipasi maka BNPB melakukan pendekatan untuk mengantisipasi kemungkinan bencana salah satunya banjir. Hal ini terkait bagaimana dengan pengelolaan sungai yang bagus, mengelola sampah, dan pemukiman yang permasalahanya sangat komplek.

Oleh karenanya diadakan sekolah sungai di Kali Buntung, Karangwaru, Yogyakarta yang diikuti perwakilan BNPB dari berbagai daerah di Indonesia.

Sekolah sungai di Yogyakarta diikuti perwakilan dari 12 kabupaten dan kota di Indonesia.

"Kita latih, kita harapkan mereka mengembangkan pola yang sama di daerah masing-maisng. Daerah yang ikut adalah yang sangat rawan dan pernah mengalami bencana besar berkaitan dengan air seperti Manado dan Garut," kata B Wisnu Widjaja.

Sekolah sungai ini, kata Wisnu, untuk mengembalikan fungsi sungai sesuai ekosistemnya seperti untuk mengalirkan air hujan yang turun. Menurutnya, permasalahan sungai saat ini sangat komplek karena perilaku membuang sampah di sungai, adanya permukiman di pinggiran sungai dan masalah lainnya.

Pengelolaan sungai di Yogyakarta dinilai berkembang cukup bagus karena melibatkan masyarakat di sekitar sungai.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta Krido Suprayitno mengatakan sekolah sungai sebagai salah satu kegiatan untuk mendukung pengurangan resiko bencana. Di DIY terdapat beberapa skema sekolah sungai yang sudah mandiri dan pratama yakni masih rintisan.

Sekolah sungai di Yogyakarta melibatkan perguruan tinggi untuk menyusun kurikulum dalam bentuk perencanaan. Dan melibatkan ketokohan untuk implementasinya, serta pemerintah setempat.

"Di DIY itu ada beberapa spot yang sudah mandiri yang pertama di kota yakni di Blunyahrejo dan Karangwaru sebagai sebuah model di perkotaan," kata Krido Suprayitno.

 

Sumber : http://www.bencana-kesehatan.net/index.php/13-berita/berita/2744-90-bencana-di-indonesia-hidrometeorologi-bnpb-gelar-sekolah-sungai

Muhammadiyah Luncurkan Sekolah Sungai di Kali Code Yogyakarta

Muhammadiyah meluncurkan Sekolah Sungai di kawasan Jetisharjo Kali Code Yogyakarta, Kamis (18/5). Ketua Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Muhammadiyah, Muhjiddin Mawardi, menyampaikan sekolah ini menjadi institusi pendidikan berbasis sungai satu-satunya di Indonesia. 

"Di sekolah ini kami mengedepankan pendidikan non-formal. Artinya siapa saja bisa ikut dalam kegiatan sekolah sungai. terbuka untuk siapapun, bukan hanya untuk orang muslim saja," kata Muhjiddin.

Menurutnya, sekolah sungai merupakan bagian dari dakwah Muhammadiyah. Salah satunya dengan cara memuliakan air dan melestarikan lingkungan hidup. Ia berharap semoga keberadaan sekolah sungai menjadi amal ibadah bagi para penggagas dan orang-orang yang terlibat di dalamnya.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Agung Danarto, menuturkan sekolah sungai merupakan pilot project yang akan dikembangkan di seluruh negeri. "Kami mengapresiasi upaya Majelis Lingkungan Hidup yang sudah merealisasikan keputusan mukhtamar untuk memelihara lingkungan," katanya.

Dijelaskan sekolah sungai sendiri dikembangkan untuk mengedukasi masyarakat Indonesia agar bisa bersahabat dengan alam. Sehingga alam dan manusia bisa saling memberi manfaat.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Efendi pun mengamini tujuan pendirian Sekolah Sungai Muhammadiyah. Ia berharap ke depannya sekolah tersebut bisa menjadi model untuk penanganan bantaran sungai se-Indonesia.

"Saya setuju dengan nama sekolah agar lebih inklusif. Ini juga terkait nomenklatur agar Kemendikbud bisa membantu. Semoga sekolah ini bisa jadi pendorong agar lingkungan sungai bisa lebih bagus," ujarnya.

Peluncuran Sekolah Sungai Muhammadiyah ditandai dengan pelepasan burung ke alam, penebaran benih ikan lokal ke sungai, serta pemakaian rompi daur ulang kepada Mendikbud. 

 

Sumber : http://www.republika.co.id/berita/nasional/sang-pencerah/17/05/18/oq5dae399-muhammadiyah-luncurkan-sekolah-sungai-di-kali-code-yogyakarta

Sekolah Sungai Mendidik Relawan Peduli Sungai

Masalah penanggulangan bencana bukanlah masalah sektoral, tetapi masalah multi sektor karena terkait dengan kemiskinan, disabilitas dan lingkungan hidup. Sementara di Indonesia, tidak ada tempat yang benar-benar aman dari bencana. 

Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana bekerjasama dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan Sekolah Sungai Nasional. Dengan sekolah ini diharapkan sungai-sungai di Indonesia menjadi sehat dan tidak lagi menjadi tempat banjir di musim penghujan.

"Faktanya hampir 500 kabupaten/ kota tidak ada satupun yang terbebas dari ancaman bencana.  Jika tidak terkena banjir, kena gempa bumi. Kalau tidak gempa bumi, terkena letusan gunung berapi dan sebagainya," ujar Lilik Kurniawan, S.T., M.Si, Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, di sela-sela kegiatan Pembekalan Fasilitator Sekolah Sungai, di Sekolah Vokasi UGM, Senin (22/8).

Lilik Kurniawan menandaskan  Indonesia memiliki 12 ancaman bencana. Oleh karena itu, BNPB berharap siapapun yang menjadi pemimpin mestinya bersikap pro terhadap penanggulangan bencana. Karena setiap kali terjadi bencana maka yang paling dirugikan adalah masyarakat.

Pemimpin pro pada bencana, menurut Lilik, terlihat dari kebijakan-kebijakan yang diputuskan. BNPB tentu sangat menyayangkan jika ada pemimpin yang tidak pro pada bencana, karena sikap dasar pemimpin adalah melindungi masyarakatnya. 

"Pada pembukaan UUD 1945 telah disebutkan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah. Jadi perlindungan itu tidak hanya di masa perang, namun juga bencana. Karena bencana adalah ancaman nyata yang sekarang ada di depan kita," tuturnya. 

Menurut Lilik, keberadaan sungai juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat edukasi masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas hidup. Dengan demikian, diharapkan pengelolaan sungai tidak lagi hanya dibebankan pada pemerintah, namun semua masyarakat. Sebab, jika dibebankan pemerintah maka hasilnya seperti yang terjadi saat ini, begitu pemerintah pergi maka sungai kembali kotor dan penuh sampah lagi.  

"Edukasi Sekolah Sungai adalah masalah kultur. Jadi, Sekolah Sungai itu kita tujukan bagaimana merubah budaya agar masyarakat menghargai sungai, menghargai air dan kita hidup karena air," jelasnya. 

Dengan Sekolah Sungai, kata Lilik, diharapkan mampu membentuk relawan-relawan sungai lebih banyak lagi. BNPB menargetkan satu kabupaten/ kota terdapat 1000 relawan di akhir tahun. 

"Sekolah Sungai angkatan kedua ini diikuti 15 kabupaten/ kota. Mestinya, target yang ingin dicapai 15 ribu relawan sungai. Bisa kita bayangkan dengan sebesar itu, tentu pasti akan ada dampaknya, kita yakin mampu memelihara sungai, menjaga sungai dan sebagainya," katanya. 

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Prof. Dr. Suratman, mengungkapkan Sekolah Sungai merupakan sekolah pertama di dunia. Sekolah ini mendahului 17 program Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurutnya, penyelenggaraan Sekolah Sungai sudah sangat mendesak untuk dilakukan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Sebab, Indonesia telah memasuki ancaman krisis air yang berdampak pada krisis pangan, krisis energi dan lain-lain.

"Sekolah ini lahir di saat yang tepat di saat Indonesia menghadapi ancaman krisis air. Karena itu, untuk mewujudkannya perlu memperhatikan panca daya kali (sungai) istimewa, sungai itu harus urip, air yang memberi kehidupan, sungai waras, sungai yang menyehatkan, sungai wasis, sungai rapi indah, kali digdaya dan kali rahayu, sungai yang lestari," tuturnya (Humas UGM/ Agung) 

Sumber  : https://www.ugm.ac.id/id/berita/12329-sekolah.sungai.mendidik.relawan.peduli.sungai

Sekolah Sungai Mendidik Relawan Peduli Sungai

Masalah penanggulangan bencana bukanlah masalah sektoral, tetapi masalah multi sektor karena terkait dengan kemiskinan, disabilitas dan lingkungan hidup. Sementara di Indonesia, tidak ada tempat yang benar-benar aman dari bencana. 

Untuk itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana bekerjasama dengan perguruan tinggi, termasuk Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan Sekolah Sungai Nasional. Dengan sekolah ini diharapkan sungai-sungai di Indonesia menjadi sehat dan tidak lagi menjadi tempat banjir di musim penghujan.

"Faktanya hampir 500 kabupaten/ kota tidak ada satupun yang terbebas dari ancaman bencana.  Jika tidak terkena banjir, kena gempa bumi. Kalau tidak gempa bumi, terkena letusan gunung berapi dan sebagainya," ujar Lilik Kurniawan, S.T., M.Si, Direktur Pengurangan Risiko Bencana BNPB, di sela-sela kegiatan Pembekalan Fasilitator Sekolah Sungai, di Sekolah Vokasi UGM, Senin (22/8).

Lilik Kurniawan menandaskan  Indonesia memiliki 12 ancaman bencana. Oleh karena itu, BNPB berharap siapapun yang menjadi pemimpin mestinya bersikap pro terhadap penanggulangan bencana. Karena setiap kali terjadi bencana maka yang paling dirugikan adalah masyarakat.

Pemimpin pro pada bencana, menurut Lilik, terlihat dari kebijakan-kebijakan yang diputuskan. BNPB tentu sangat menyayangkan jika ada pemimpin yang tidak pro pada bencana, karena sikap dasar pemimpin adalah melindungi masyarakatnya. 

"Pada pembukaan UUD 1945 telah disebutkan melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah. Jadi perlindungan itu tidak hanya di masa perang, namun juga bencana. Karena bencana adalah ancaman nyata yang sekarang ada di depan kita," tuturnya. 

Menurut Lilik, keberadaan sungai juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat edukasi masyarakat dalam upaya meningkatkan kualitas hidup. Dengan demikian, diharapkan pengelolaan sungai tidak lagi hanya dibebankan pada pemerintah, namun semua masyarakat. Sebab, jika dibebankan pemerintah maka hasilnya seperti yang terjadi saat ini, begitu pemerintah pergi maka sungai kembali kotor dan penuh sampah lagi.  

"Edukasi Sekolah Sungai adalah masalah kultur. Jadi, Sekolah Sungai itu kita tujukan bagaimana merubah budaya agar masyarakat menghargai sungai, menghargai air dan kita hidup karena air," jelasnya. 

Dengan Sekolah Sungai, kata Lilik, diharapkan mampu membentuk relawan-relawan sungai lebih banyak lagi. BNPB menargetkan satu kabupaten/ kota terdapat 1000 relawan di akhir tahun. 

"Sekolah Sungai angkatan kedua ini diikuti 15 kabupaten/ kota. Mestinya, target yang ingin dicapai 15 ribu relawan sungai. Bisa kita bayangkan dengan sebesar itu, tentu pasti akan ada dampaknya, kita yakin mampu memelihara sungai, menjaga sungai dan sebagainya," katanya. 

Wakil Rektor UGM Bidang Penelitian dan Pengabdian Masyarakat sekaligus Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Prof. Dr. Suratman, mengungkapkan Sekolah Sungai merupakan sekolah pertama di dunia. Sekolah ini mendahului 17 program Sustainable Development Goals (SDGs).

Menurutnya, penyelenggaraan Sekolah Sungai sudah sangat mendesak untuk dilakukan agar mampu menjawab kebutuhan masyarakat. Sebab, Indonesia telah memasuki ancaman krisis air yang berdampak pada krisis pangan, krisis energi dan lain-lain.

"Sekolah ini lahir di saat yang tepat di saat Indonesia menghadapi ancaman krisis air. Karena itu, untuk mewujudkannya perlu memperhatikan panca daya kali (sungai) istimewa, sungai itu harus urip, air yang memberi kehidupan, sungai waras, sungai yang menyehatkan, sungai wasis, sungai rapi indah, kali digdaya dan kali rahayu, sungai yang lestari," tuturnya (Humas UGM/ Agung) 

Sumber  : https://www.ugm.ac.id/id/berita/12329-sekolah.sungai.mendidik.relawan.peduli.sungai

Saatnya Kamu Menjadi Bagian dari Indonesia Tangguh

Kamu bisa berbagi inspirasi, pengetahuan, dan keselamatan dengan bergabung bersama risikobencana.co
Mari mencintai Indonesia segenap siaga!

Gabung Sekarang