Mitigasi, Kenali Ancaman, Adopsi Kearifan Lokal

Mitigasi, Kenali Ancaman, Adopsi Kearifan Lokal
'

Risikobencana.co. Jakarta, 2/11/ 2017. Lempeng tektonik bumi selalu bergerak, bahkan bertumbukan dan bergesekan satu sama lainnya. Proses ini terjadi sejak jutaan tahun lalu membentuk benua, pulau dan lautan yang kita kenal sekarang.

Saat lempeng tektonik bergerak saling bergerak bergesekan, terkadang gerakan itu terhenti atau terhambat, karena kekakuan batuan. Batuan tidak selalu bisa meluncur atau “mengalir” melewati satu sama lain dengan mudah, sehingga kadang semua gerakan berhenti atau terhambat.

Ketika ini terjadi, stres menumpuk di titik tertentu dari bebatuan, hingga suatu saat mencapai tingkat yang melebihi ambang ketegangan, energi potensial akumulasi didisipasikan oleh pelepasan ketegangan, yang difokuskan ke sebuah bidang sepanjang di mana gerakan relatif tersebut ditampung, yaitu Sesar.

Tegangan terjadi secara akumulatif atau instan, tergantung pada reologi dari batuan;  kerak bawah dan mantel  yang ductile mengakumulasi deformasi secara bertahap melalui gaya geser, sedangkan  kerak atas yang brittle bereaksi dengan fraktur - lepasan tegangan seketika - menyebabkan gerakan sepanjang sesar. Sebuah sesar dalam batuan ductile juga dapat lepas seketika ketika laju regangan terlalu besar. Energi yang dilepaskan oleh lepasan tegangan-seketika menyebabkan gempa bumi.

Setidaknya ada 3 lempeng tektonik berada di wilayah Indonesia. Tumbukan atau pergesekan lempeng-lempeng tektonik itu tidak tanggung-tanggung menghasilkan 295 sesar aktif. Itu artinya kapan saja dan di mana saja (di atas wilayah sesar) bisa terjadi gempa dan jika terjadi di bawah laut ia bisa menimbulkan tsunami.

Para ahli pernah menyampaikan di sebuah seminar di tahun 2014 lalu, bahwa kita perlu mengenali ancaman yang unik di setiap daerah, serta mengadopsi kearifan lokal. Bersamaan dengan itu perlu juga melakukan penguatan kapasitas dan sinergi stakeholders.

Pakar tsunami Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Widjo Kongko dalam seminar nasional Jaya Giri Jaya Bahari 2014 lalu di Bentara Budaya Jakarta mengatakan Indonesia merupakan daerah gempa bumi dan tsunami pada masa lalu, kini dan yang akan datang. Masih banyak kejadian bencana dan peninggalannya yang belum digali dan diteliti.

Lebih lanjut ia mengatakan: “Untuk mitigasi perlu mengenali karakteristik ancaman bencana yang unik di setiap daerah, adopsi kearifan lokal, penguatan kapasitas dan sinergisitas stakeholders.” Menurutnya Indonesia masih akan dilingkupi bencana selama pergerakan lempeng di Indonesia masih terjadi. Sehingga konsep mitigasi harus bersifat lokal dan unik. Setiap ancaman bencana gunung api dan tsunami tidak sama untuk setiap daerah.

Geolog dan arkeolog yang berkumpul itu antara lain Kepala Badan Geologi, Surono, peneliti di Museum Geologi, Indyo Pratomo, geolog dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Widjo Kongko, dan arkeolog Harry Truman Simanjuntak. (Jojo)

Sumber: Wikipedia dan DisasterChannel.co

 

 

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostYang Perlu Dilakukan sebelum Terjadi Letusan Gunung Api
Next PostPeringatan Hari Sejuta Pohon Sedunia - Cara Menyelamatkan Pohon