Kenali Ancaman Anda

Kenali Ancaman Anda
'

Risikobencana.co. Sentu, 3/11/2017. Raja ampat, siapa yang mampu menolak keindahan alamnya. Laut yang begitu jernih, tanpa harus menyelam pun dapat melihat keindahan ikan, karang, dan keindahan dasarnya. Gradasi warna hijau-biru makin menambah decak kagum pada keindahan ciptaan Yang Maha Indah.
Siang itu kami bersandar di suatu pulau untuk istirahat makan siang. Decak kagum pun masih berlanjut melihat ikan-ikan berkeliaran bebas tanpa takut dengan pengunjung. Seorang teman mengingatkan bahwa di sana dilarang memancing ikan. Siapa yang tak tergiur ingin menangkap ikan yang begitu “ramah” dan sangat menggoda. Saya sendiri bukan orang yang terlalu suka makan ikan, tapi ketika berada di sana ikut tergoda ingin menangkapnya.
“Kenapa gak boleh mancing ya? Kan mancing gak merusak lingkungan?” tanya teman yang lainnya.
“kalau kamu mancing, nanti ikannya pergi, gak mau maen-maen di sini lagi,” Jawab teman yang tadi melarang untuk memancing.
“Kok bisa?” masih penasaran.
“Karena ada ancaman. Mancing memang tidak merusak lingkungan secara langsung, tapi menjadi ancaman bagi ikan-ikan yang ada di sini.”
Saya hanya memperhatikan percakapan mereka sambil mencerna pelajaran yang baru bagi saya. Satu kata kunci; “ancaman”.

---------------------------------
Selamat tinggal Raja Ampat, sekarang saya telah kembali ke rumah yang saya kontrak selama dua tahun ini. Rumah yang cukup nyaman, namun seiring masuknya musim hujan, kini banyak nyamuk berkeliaran. Selama di rumah ini, saya dan kelurga hampir tak pernah menggunakan obat nyamuk. Salah memberikan obat, nanti nyamuknya malah makin sehat dan kuat. Istri saya dirumah melindungi kamar tidur kami dengan tirai yang tidak bisa ditembus nyamuk. Kalau orang zaman dulu mungkin lebih kenal dengan kelambu. Seiring berkembangnya teknologi, kelambu pun ikut berevolusi dengan berbagai macam bentuk yang sarat kreatifitas manusia-manusia milenial. Namun serangan nyamuk di musim hujan tampaknya cukup dahsyat. Tetap saja ada yang masuk dan mengganggu tidur kami. Karena di rumah tidak menggunakan obat nyamuk, saya sedia raket listrik.
Awalnya nyamuk berkeliaran dengan santainya. Terbang melintasi wajah, hinggap di tangan dan kaki dengan tenang. Namun berbeda ketika saya telah memegang raket listrik, nyamuk-nyamuk yang berkeliaran pun seolah menghilang dan tak ada jejaknya (yaiyalah tanpa jejak, nyamuk kan terbang). Apalagi jika salah satu tertangkap oleh sabetan raket saya. Suara setrum nya yang khas pun menjadikan nyamuk-nyamuk lain enggan keluar dan menampakkan diri lagi.
Teringat ikan-ikan di Raja Ampat, ternyata nyamuk-nyamuk yang pergi pun karena hal yang sama; “ancaman”.

-------------------------------
Selain nyamuk, ada satu kelompok hewan lain yang cukup mengganggu di rumah; semut. Jika ada sisa makanan di rumah, tak perlu menunggu lama, sudah banyak semut berdatangan. Jenis semut yang ada di rumah semut kecil yang punya gigitan maut. Sekali gigit akan sakit dan gatal. Dalam menanggulangi semut, saya sedia kapur pembasmi semut dan serangga. Cukup buat garis melintang yang memotong jalur semut menuju makanan. Beberapa ekor memang langsung mati karena langsung terkena kapur saat saya membuat garis. Namun yang dilakukan semut lainnya sangat menarik. Tak ada yang mau melewati garis kapur. Semut-semut itu berhenti dan mencari jalur lain walaupun lebih jauh. Apa yang terjadi dengan semut-semut ini? Mereka mengenali ancamannya. Ya, lagi-lagi tentang “ancaman”.

---------------------------------------
Hewan derajatnya di bawah manusia, namun hewan punya kemampuan mengenali ancaman yang dapat merugikan bahkan menghilangkan nyawanya. Ketika seekor hewan sadar bahwa ada ancaman, artinya dirinya menjadi rentan. Hewan memiliki insting yang membuatnya seolah menghindari ancaman. Karena ketika ancaman bertemu dengan dirinya sebagai kelompok rentan, maka terjadilah risiko.
Jika hewan saja dapat mengenali ancaman bagi dirinya, semestinya manusia sebagai makhluk paling sempurna dengan akalnya dapat berbuat lebih dari itu. Hewan dapat mengenali ancaman ketika telah ada korban. Manusia semestinya dapat memprediksi ancaman tanpa harus terjadi dan jatuh korban lebih dulu. Tak cukup mengenali ancaman, tapi setingkat lebih tinggi lagi, yaitu memahami ancaman. Dengan memahami ancaman, kita sebagai manusia dapat membuat perencanaan untuk menanggulanginya. Jika merasa tidak mampu sendirian menanganinya, artinya perlu adanya saling tolong-menolong antar manusia karena manuasia itu adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup sendiri. Jika tolong-menolong masih dirasa kurang, inilah saatnya kita sebagai makhluk sosial dapat saling menjamin. Menjamin keamanan, kenyamanan, dan kehidupan yang layak. Betapa indah hidup jika ada saudaranya yang kesulitan maka sudaranya yang lain menjamin kehidupannya sehingga kesulitan yang ad dapat diatasi bersama. Dari sana maka akan lahirlah sikap saling mendahulukan kepentingan yang lain untuk kebaikan bersama daripada kepentingan pribadinya.
Saya yakin yang membaca tulisan ini adalah manusia-manusia hebat. Akan lebih hebat lagi jika anda dapat mengenali ancaman di sekitar.
Sudah taukah apa saja ancaman di sekitar anda?
Saatnya untuk membuka inarisk.bnpb.go.id
cekidot, gan... (Ade BNPB)

 

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous PostMitigasi, Kenali Ancaman, Adopsi Kearifan Lokal
Next PostPeringatan Hari Sejuta Pohon Sedunia - Cara Menyelamatkan Pohon