Penggunaan Masker yang Benar Menurut Perhimpunan Dokter Paru

Penggunaan Masker yang Benar Menurut Perhimpunan Dokter Paru
'

Di tengah masih pekatnya asap akibat kebakaran hutan dan lahan, penggunaan masker menjadi sangat penting. Beberapa waktu belakangan, polemik tentang jenis masker serta penggunaannya tersebar di media.

Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia memberikan penjelasan mengenai penggunaan masker yang benar, yakni sebagai berikut:

Komponen asap kebakaran hutan terdiri atas: GAS (CO, CO2, NOx, SOx, Ozone dan lainya), PARTIKULAT (PM10, PM2.5, Ultrafine particles), dan UAP. Masing-masing memiliki dampak terhadap kesehatan. Sampai saat ini, tidak ada satupun Jenis masker/respirator yang dapat memproteksi terhadap semua komponen GAS dari asap kebakaran hutan

Sesuai dengan konsep pencegahan primer, sekunder, dan tersier di dalam hubungannya dengan risiko kesehatan akibat pajanan bahan berbahaya termasuk asap kebakaran hutan, penggunaan alat pelindung diri seperti masker/respirator direkomendasikan untuk digunakan oleh orang-orang yang terpajan asap kebakaran hutan

Masker ataupun respirator didesain untuk mengurangi pajanan partikulet (PM)

Penggunaan “masker bedah (surgical mask)” pada kasus kebakaran hutan memiliki manfaat untuk mengurangi pajanan masuknya partikel ke dalam saluran napas. Berdasarkan penelitian/literatur “masker bedah didesain untuk memfilter partikel yang besar tetapi tidak untuk partikel yang kecil”, penetrasinya sekitar “60-70% partikel masih dapat masuk ke saluran napas”

Sehubungan dengan penggunaan respirator

Terdapat banyak jenis respirator, yaitu air purifying device dan air supplying device. Air purifying device memiliki beberapa jenis seperti N100, N95, R100, P100 dan lainnya yang didasarkan pada kemampuannya memfiltrasi partikel

“Masker N95 merupakan masker yang cukup baik karena dapat menghalangi 95%” partikel yang masuk (terutama PM10) JIKA: digunakan dengan teknik dan cara yang tepat (dibutuhkan individuality fit test). Beberapa penelitian penggunaan masker N95 dan masker bedah tidak berbeda bermakna dari segi kejadian ISPA akibat pajanan asap kebakaran hutan. Hal ini berhubungan dengan teknik penggunaan masker N95 yang tidak tepat. Sehingga manfaatnya hampir sama dengan penggunaan masker bedah biasa. JIKA digunakan dengan teknik dan cara yang benar, masker N95 dapat mengurangi gejala pernapasan yang timbul akibat pajanan asap kebakaran

Penggunaan masker N95 mempunyai keterbatasan berupa ketidaknyamanan penggunaannya dan penggunaannya terbatas maksimal hanya 8 jam (disposable)

Penggunaan masker N95 berdasarkan direkomendasikan pada kondisi berikut ini:
i. Seseorang yang harus berada diluar ruangan saat kondisi asap cukup pekat ( dilihat dari kualitas udara. PM10 atau ISPU)
ii. Dengan syarat “harus dengan  individual fit test” agar kemampuan proteksinya terjamin dengan baik

Penggunaan masker N95 tidak direkomendasikan pada :
i. Di dalam rumah
ii. Anak-anak
iii. Ibu hamil
iv. Orang tua (lansia)
v. Pasien dengan penyakit kardiovaskuler, penyakit paru kronik

Sumber:disasterchannel.co

Comments (0)
Berikan Komentar Anda

Previous Post5R, Solusi atas Dampak Perubahan Iklim
Next PostPeringatan Hari Sejuta Pohon Sedunia - Cara Menyelamatkan Pohon